Update : Senin, 26/07/2010
 
Tips dan Santai

Umbi Bunga Bangkai Mencapai 200 Kg

Amorphophallus titanium atau lebih dikenal dengan sebutan Bunga Bangkai. Adalah tanaman langka dari suku talas-talasan dan termasuk salah satu tanaman yang paling dilindungi pemerintah. Bunga bangkai tumbuh alami di beberapa lokasi di pulau Sumatera terutama di provinsi Bengkulu. Bunga ini merupakan ikon resmi dari Provinsi Bengkulu. Akan tetapi, tanaman ini bisa dijumpai di taman-taman konservasi botani seperti di Kebun Raya Cibodas (Cipanas, Jawa Barat), Purwodadi (Pasuruan, Jawa Timur) dan Eka Karya (Bedugul, Bali), dan Kebun Raya Bogor (Jawa Barat).

Iteng Dayana Karyantara, S.Hut., staf pemanduan Kebun Raya Bogor, mengatakan bunga bangkai merupakan tanaman yang sangat unik dan memiliki fenomena mengagumkan yang tidak dimiliki tanaman lain pada umumnya. Bunga bangkai dijuluki sebagai bunga raksasa karena tingginya dapat mencapai 3,5 m. bentuk bunganya seperti lingga atau tongkol yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar.

Bunga Bangkai mekar sempurna pada malam hari dan mekarnya bisa bertahan 1-2 minggu. Pada saat mekar, suhu pada tongkol bunga semakin lama semakin meningkat sehingga terlihat mengeluarkan asap.

Asap yang dikeluarkan bunga bangkai berbau busuk yang sangat menyengat, dan digunakan untuk menarik serangga atau lalat untuk datang menyerbuki. Bunga dalam kondisi mekar dapat bertahan selama 1-2 minggu kemudian layu. Apabila pembuahan terjadi, akan membentuk buah-buahan berwarna merah dengan biji di bekas pangkal bunga. “Biji-biji ini dapat ditanam kembali untuk menghasilkan bunga bangkai yang baru”, ujarnya.

Iteng mengatakan bunga bangkai ini telah ditanam pertamakali di Kebun Raya Bogor sejak 1992 dan yang kedua dikoleksi 1995. Bunga bangkai didatangkan langsung dari Bengkulu berupa umbi. Pertumbuhan umbi dalam tanah beratnya bisa mencapai hingga 200 kg dan pada suatu saat akan mengalami masa istirahat selama 1-3 tahun. Dari umbi hanya akan keluar satu daun pada satu kali masa tumbuh dan panjang daunnya bisa mencapai panjang 6 m dan lebar 6 m. “Umbi nantinya akan memunculkan daun tanpa bunga atau bunga tanpa daun pada waktu yang berbeda”, jelas Iteng.

Karena keunikannya tersebut, kata Iteng, bunga bangkai banyak diincar oleh para kolektor tanaman dan dijadikan pengkoleksian untuk tujuan komersil secara berlebihan. Selain itu, kelangkaannya di antaranya disebabkan oleh banyaknya pengrusakan kawasan hutan hujan basah yang menjadi habitat asalnya, terputusnya mata rantai ekosistem karena hilangnya serangga-serangga penyerbuk dan binatang-binatang yang membantu penyebaran biji karena penangkapan liar, dan diberantasnya tanaman ini di alam karena dianggap tidak bermanfaat.

Iteng mengatakan, untuk melestarikannya Kebun Raya Bogor menyediakan staf khusus untuk melakukan perawatan bunga bangkai ini. Perawatan meliputi pembersihan hama dan penyiangan gulma secara berkala. “Karena merupakan tanaman liar, bunga bangkai tidak perlu dirawat secara intensif, akan tetapi pemantauan harus rutin dilakukan”, kata Iteng.

Selanjutnya untuk membantu keberadaan bunga bangkai ini, kata Iteng, sebaiknya masyarakat tidak mengoleksi bunga bangkai untuk tujuan komersil dan menjaga keseimbangan ekosistem di habitatnya, hutan hujan basah. Selain itu, tambah Iteng, saat ini Kebun Raya Bogor sedang melakukan penelitian untuk memperbanyak tanaman ini. “Bila benar-benar tertarik masuklah ke kelompok konservasi dan menyebarkan informasi yang didapat kepada orang lain”, kata Iteng.

Arsip