Update : Senin, 26/07/2010
 
Ternak

Gangguan dan Penyakit Terkait Proses Kelahiran pada Sapi Potong

Pada usaha pembibitan sapi potong, tujuan utamanya adalah menghasilkan pedet-pedet berkualitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Untuk meraih hal tersebut, langkah pertama adalah bagaimana induk-induk sapi yang dipelihara dapat bunting dan melahirkan pedet yang sehat setiap tahunnya. 

Ada banyak gangguan dan penyakit yang dapat menjangkiti induk sapi pada akhir masa kebuntingan hingga proses melahirkan. Banyak kasus yang terjadi saat melahirkan (parturisi) bersifat mendadak dan membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat pula, sehingga tidak menimbulkan efek yang permanen yang akan mempengaruhi status reproduksi dan fertilitas pada periode berikutnya.

Berikut ini merupakan uraian singkat mengenai gangguan dan penyakit yang umum terjadi, baik menjelang (Pre-calving), saat (calving) maupun pasca (post-calving) melahirkan.

Periode Pre-calving
1. Prolaps Vagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.

Penyebab kasus ini dikarenakan adanya perubahan pada jaringan otot di sekitar saluran peranakan bagian luar yang mengalami relaksasi pada saat induk sapi memasuki kebuntingan trisemester ketiga (Cuneo, 2009). Selain itu, meningkatnya tekanan di dalam rongga perut seiring perkembangan foetus (janin sapi) dapat mendorong bagian dalam vagina/rectum keluar rongga tubuh. Pada banyak kasus, saluran kantung kemih tertutup oleh bagian vagina yang mengalami prolaps sehingga sapi tidak dapat kencing. Kasus ini lebih banyak dijumpai pada induk sapi yang berumur tua dan induk sapi yang baru pertama kali bunting (Bicknell, 2009). Sapi - sapi yang digembalakan pada area yang banyak tanaman legume (kacang-kacangan) dan sapi yang mengalami kegemukan, sapi bunting yang dipelihara dengan kontruksi lantai yang terlalu miring memiliki resiko yang tinggi terhadap kasus prolaps.

Prinsip dasar penanganan kasus ini adalah mengembalikan organ yang mengalami prolaps ke posisi normalnya. Tindakan penjahitan kadang dibutuhkan namun saat parturisi jahitan tersebut harus dilepas. Untuk tindakan tersebut dapat menghubungi dokter hewan terdekat.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat desain lantai kandang yang tepat/tidak terlalu miring. Kontrol manajemen pakan sehingga sapi-sapi yang bunting terutama pada trisemester ke tiga tidak mengalami kegemukan. Dan yang penting adalah jangan memelihara sapi yang pernah mengalami kejadian prolaps vagina/rektal pada saat bunting karena ada kecenderungan genetis berperan dalam kejadian kasus prolaps (Card, 2009).

2. Ketosis/Pregnancy Toxemia
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip