Update : Kamis, 11/03/2010
 
Sorotan

Sukses Panen di Tengah Musim Hujan

Turunnya hujan menjadi harapan bagi masyarakat yang sedang mengalami kemarau panjang, namun demikian hujan yang turun secara berlebihan dapat berakibat banjir dan merusaknya lahan pertanian khususnya areal pertanaman padi yang menjadi sumber pangan bagi penduduk di Indonesia. Isu perubahan iklim global yang berdampak terjadinya fenomena alam kekeringan atau El Nino diprediksi akan berganti dengan fenomena La Nina atau banjir di musim penghujan awal tahun 2010.

Banjir merupakan ancaman bagi petani khususnya di sentra-sentra produksi padi, karena banjir dapat menggenangi areal pertanaman padi yang umumnya tidak tahan terhadap genangan air yang relatif lama. Kondisi tersebut akan lebih parah lagi jika terjadi di daerah rawa lebak dan pasang surut.

Di daerah pantai dan rawa pasang surut, banjir menyebabkan pula terjadinya peningkatan kadar garam (salinitas) tanah. Tanaman padi yang tidak memiliki ketahanan terhadap salinitas akan mati bila ditanam di lahan ini

Dalam upaya mengantisipasi dampak buruk dari banjir terhadap usaha tani padi, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi telah berhasil mengembangkan dan melepas varietas unggul Inpara (Inbrida Padi Rawa). Pada tahun 2008 BB Padi berhasil melepas 3 varietas, yaitu; Inpara 1, Inpara 2, dan Inpara 3, dan pada tahun 2009 melepas dua varietas yaitu; Inpara 4 dan 5 dengan karakteristik keunggulan yang berbeda.

Kerusakan
Kerusakan lahan pertanian akibat banjir dari tahun 1991-2008 bervariasi antara 100-400 ribu hektar per tahun atau sekitar 500 ribu ton hingga 2 juta ton gabah yang setara dengan Rp 1,25 triliun hingga Rp 5 triliun. Kerugian akibat banjir cukup besar bukan saja berupa material akan tetapi juga non material. Tanaman padi yang tidak memiliki ketahanan terhadap rendaman akan mati bila terendam air dalam waktu kurang dari satu minggu. Bila sawahnya terendam banjir, petani biasanya menanam ulang 2-4 kali dalam satu musim tanam tergantung datangnya banjir. Banjir dapat menyapu tanaman padi yang baru ditanam. Oleh karena itu datangnya musim hujan ini perlu diwaspadai.

Areal pertanaman padi yang rawan terhadap banjir meliputi rawa lebak, bonorowo, sawah dataran rendah seperti kawasan pantai utara Pulau Jawa, dan sawah di daerah aliran sungai (DAS). Lahan-lahan tersebut terdapat hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Bonorowo merupakan lahan pertanian yang selalu tergenang air di musim hujan dan banyak terdapat di pulau Jawa. Kerusakan lahan akibat kekeringan lebih besar (1,1 juta hektar) per tahun dalam 20 tahun terakhir dibandingkan kerusakan lahan akibat banjir. Kandungan air garam yang sangat tinggi dan ditunjang buruknya drainase akan mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen sehingga tidak produktif.

Upaya
Upaya mengatasi dampak perubahan iklim global dengan fenomena El Nino dan La Nina telah dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi kerjasama dengan International Rice Research Institute (IRRI). Kerjasama di bidang penelitian ini telah menghasilkan varietas padi unggul baru tahan rendaman. Tiga varietas diantaranya masing-masing dengan nama Inpara-3, Inpara-4, dan Inpara-5 adalah toleran terhadap rendaman. Varietas Inpara-4 dan Inpara-5 memiliki keunggulan dibanding Inpara-3 yaitu tahan rendaman sampai 14 hari dalam air bening pada fase vegetative sedangkan Inpara-3 hanya mampu 6 hari.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip