Update : Senin, 01/03/2010
 
Sorotan

Menyiasati Anomali Iklim Dengan Varietas Ultra Genjah

‘Habis Kering Terbitlah Banjir’ begitu kira-kira kiasan buat kondisi iklim yang belakangan ini kerap tak menentu. Kering dan banjir sama-sama berdampak buruk bagi pengadaan stok pangan nasional. Untuk itu saat ini anomali iklim ini perlu disiasati dengan upaya-upaya yang tepat.

Anomali iklim yang sering berdampak serius terhadap kehidupan sosial dan ekonomi nasional, terutama produksi dan ketersediaan pangan, adalah El-Nino dan La-Nina. Sejak 1900 hingga tahun 2004 telah terjadi 28 kali El-Nino dan 19 kali La-Nina dengan selang waktu 2-9 tahun dengan pengaruh dan dampak yang beragam. Dalam 20 tahun terakhir intensitas dan dampak anomali iklim cenderung meningkat, terutama terhadap penurunan produksi padi.

Walau tidak setiap kejadian El-Nino menyebabkan kelaparan, tetapi lebih dari separuh kejadian kelaparan di dunia terkait dengan anomali iklim El-Nino. Di Indonesia, El-Nino yang terjadi sebelum kemerdekaan dan selama penjajahan Jepang (1940-42) telah menimbulkan kelaparan hebat di kalangan masyarakat dan diperparah oleh sistem kerja rodi. Pada tahun 1965, El-Nino menyebabkan turunnya produksi padi nasional yang memicu kerawanan sosial dan berujung pada runtuhnya rezim Orde Lama pada tahun 1966. Hal yang mirip juga terjadi pada tahun 1997/98.

Sejarah menunjukkan pula bahwa bila terjadi anomali iklim maka yang paling merasakan dampaknya adalah petani padi yang umumnya miskin, mereka tidak bisa menabung dan tidak mempunyai pekerjaan alternatif. Anomali iklim, terutama El-Nino, tidak hanya menyebabkan turunnya produksi padi, tetapi juga berdampak terhadap mundurnya waktu tanam pada musim berikutnya dan berujung pada kelaparan.

Pada tahun 1997, kejadian El-Nino telah menyebabkan sekitar 54 ribu keluarga di berbagai daerah terancam kelaparan. Fenomena alam ini mengharuskan Pemerintah untuk mengimplementasikan Program JPS (Jaringan Pengaman Sosial) pada tahun 1998/99 dan Program Raskin (beras untuk orang miskin) pada tahun 2002.

Kebanjiran
Lepas dari El-nino, kini kita dihadapkan dengan La-nina. Fenomena La Nina atau banjir di musim penghujan awal tahun 2010. Di daerah pantai dan rawa pasang surut, banjir menyebabkan pula terjadinya peningkatan kadar garam (salinitas) tanah. Tanaman padi yang tidak memiliki ketahanan terhadap salinitas akan mati bila ditanam di lahan ini. Kerusakan lahan pertanian akibat banjir dari tahun 1991-2008 bervariasi antara 100-400 ribu hektar per tahun atau sekitar 500 ribu ton hingga 2 juta ton gabah yang setara dengan Rp 1,25 triliun hingga Rp 5 triliun.

Areal pertanaman padi yang rawan terhadap banjir meliputi rawa lebak, bonorowo, sawah dataran rendah seperti kawasan pantai utara Pulau Jawa, dan sawah di daerah aliran sungai (DAS). Lahan-lahan tersebut terdapat hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Bonorowo merupakan lahan pertanian yang selalu tergenang air di musim hujan dan banyak terdapat di pulau Jawa. Kerusakan lahan akibat kekeringan lebih besar (1,1 juta hektar) per tahun dalam 20 tahun terakhir dibandingkan kerusakan lahan akibat banjir. Kandungan air garam yang sangat tinggi dan ditunjang buruknya drainase akan mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen sehingga tidak produktif. (Baca: Sukses Panen di Tengah Musim Hujan)

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip