RUMAH KOMPOS Menjamin Standar Kualitas Kompos Produksi Petani
“Pupuk organik bila tanpa kotoran hewan tidak murni, belum ada protein,” kata H. Engkos Rusmana Manajer Rumah Kompos Kelompok Tani Sirnagalih 2, Desa Sirnagalih, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Di sebuah rumah kompos seluas 100 m2 bantuan Departemen Pertanian tahun 2009 itulah H. Engkos memproduksi pupuk kompos. Ada 4 kelompok tani atau sekitar 100 petani bergabung untuk memanfaatkan rumah kompos itu. Total lahan sawah mereka 80 ha. Per hektarnya memerlukan 5 ton kompos.
“Untuk bisa memenuhi kebutuhan pupuk kompos seluruh anggota, rumah kompos ini harus bisa memproduksi 1 ton kompos/hari,” jelas H Engkos kepada Sinar Tani. Bahan bakunya berasal dari hijauan serasah seperti jerami, pohon jagung, rumput dan dedaunan. “Terutama jerami, tidak susah untuk mendapatkannya,” tambahnya. Yang susah adalah mendapatkan kotoran hewan. Padahal H Engkos mengatakan untuk bisa memproduksi pupuk kompos satu ton diperlukan kotoran hewan 500 kg. “Terpaksa saya harus mengambil dari peternak sapi di tempat lain,” tuturnya.
Meski bahan bakunya tidak didapat dari membeli, namun untuk mengangkut bahan baku ke rumah kompos tetap saja diperlukan biaya. “Biaya produksi pupuk kompos termasuk tenaga dan lain-lain Rp 375/kg. Kalau kotoran hewannya harus membeli, biaya produksinya sekitar Rp 500/kg kompos,” tambahnya kepada Sinar Tani di Garut di sela-sela penyerahan sertifikat kepada 17 rumah kompos yang ada di Jawa Barat oleh Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Hilman Manan.
Hilman Manan mengatakan rumah-rumah kompos ini adalah untuk memastikan agar kompos yang dibuat petani mutunya berkualitas. Dikatakannya, pupuk kompos diperlukan untuk perbaikan tanah-tanah pertanian yang makin keras dan tandus. “Ini harus kita lakukan, walau mungkin perlu waktu yang lama,” kata Hilman Manan.
Menurutnya budaya petani membakar limbah tanaman adalah merugikan diri sendiri dan lingkungan. Limbah pembakaran menimbulkan pencemaran udara, lahan menjadi ‘sakit’. Karenanya lahan-lahan pertanian harus direhabilitasi agar subur kembali. “Filosofinya, kalau tanam padi haknya manusia itu hanya beras, selebihnya sekam dan jerami kembalikan ke tanah, sehingga tanah akan memberikan hasil yang lebih baik,” tuturnya.
Hanya saja lanjut Hilman Manan bahan-bahan limbah pertanian itu perlu dikomposkan dulu melalui rumah kompos, sehingga memenuhi standar mutu. “Dengan manfaat itu, Deptan memberikan perhatian yang sangat besar pada ketersediaan pupuk organik. Sawah-sawah kita sudah keras, cacing tak bisa hidup,” tambahnya lagi.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


