Update : Senin, 26/07/2010
 
Saprodi

Pupuk Kotoran Ayam, SUKSES BERTANI DI LAHAN PASIR KUARSA

Pasir putih yang menawan tidak hanya dijumpai di tepi pantai saja, namun juga ada di tengah Pulau Kalimantan tepatnya di Kota Palangka Raya. Pasir putih atau pasir kuarsa di Palangka Raya meliputi 33,6 % atau seluas 89.955 hektar.

Warna pasir yang putih bersih merupakan bahan tambang galian C, biasanya digunakan untuk bahan bangunan berharga 250 ribu rupiah per truk.

Tak seindah warnanya, ternyata pasir kuarsa sangat miskin unsur hara, umumnya didominasi mineral SiO2, daya serapan terhadap pupuk anorganik dan air sangat rendah, dan banyak hal lain yang tidak menguntungkan untuk bertani.

Upaya petani yang tak kenal lelah memperbaiki lahan pasir kuarsa akhirnya membuahkan hasil, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa petani Palangka Raya adalah jagonya di lahan tersebut. Berbagai sayuran seperti jagung manis, kacang panjang, pare, bayam, kangkung, bawang daun, mentimun, terong, tomat, cabai, dan beragam sayuran dataran rendah lainnya dapat tumbuh subur. Kunci keberhasilan bertanam sayuran di lahan pasir kuarsa adalah penggunaan kotoran ayam.

Kelompok Tani Sumber Rejeki di Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, beranggotakan 20 orang termasuk sukses mengoptimalkan pemanfaatan lahan pasir kuarsa. Menempati lahan tidur seluas hampir sepuluh hektar yang merupakan lahan pinjaman warga setempat. Jarak lokasi bertanam sayur kurang lebih lima kilometer dari pusat Kota Palangka Raya. Lokasi tersebut dibuka dan dimanfaatkan untuk bertani sayuran dirintis pertama kali oleh Hasan sejak tahun 1992.

Penggunaan kotoran ayam merupakan hal penting untuk kesuksesan bertani sayuran di lahan pasir kuarsa. Menurut mereka kotoran ayam memiliki pengaruh cepat sebagai bahan penyubur tanah dan tanaman. Saat ini harga kotoran ayam terus meroket yaitu Rp.14.000,-/zak, sedangkan mutu dan bobotnya makin menyusut karena banyak campuran serbuk gergaji dan hanya berisi dua pertiga bahkan setengah zak saja.

Sumber pupuk kandang lainnya adalah kotoran sapi, dan harganyapun lebih murah hanya Rp. 4.000/zak, namun petani tidak menggunakannya. Alasan utama karena pengaruhnya menyuburkan tanah dan tanaman terlalu lama sehingga tidak sesuai dengan umur sayuran yang relatif pendek antara 25 sampai 60-an hari. Hal yang merugikan lainnya dari kotoran sapi adalah banyaknya gulma yang ikut dalam bahan tersebut.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip