Predator Pemangsa Kutu Daun Tembakau
Mengendalikan hama kutu daun pada tanaman tembakau tidak selalu harus menggunakan pestisida. Ada cara lain yang lebih aman dan bebas dari kandungan residu, yaitu dengan memelihara predator sebagai musuhnya. Bagaimana caranya?
Ada beberapa kendala dalam perkembangan komoditas tembakau Indonesia dewasa ini salah satunya adalah produktivitasnya yang masih rendah. Di samping itu, mutunya pun masih belum bisa bersaing di pasar internasional.
Rendahnya produktivitas ini disebabkan cara pemupukan yang kurang tepat, pengolahan tanah yang kurang intensif dan varietas tanaman yang belum bisa diandalkan. Di samping itu, hama penyakit tanaman juga dapat mempengaruhi rendahnya produktivitas dan rendahnya mutu.
Namun hal tersebut bukan berarti kartu mati bagi petani tembakau nasional. Peluang untuk meningkatkan produksi sebenarnya masih terbuka lebar, asal petani mau berupaya keras. Salah satunya adalah dalam pengendalian hama. Ini sangat berpengaruh terhadap mutu tembakau yang dihasilkan.
Seperti dimaklumi untuk mengendalikan hama atau yang disebut juga organisme pengganggu tanaman (OPT), ada tiga cara yang dapat dilaksanakan. Pertama dengan mekanik, yaitu perlakuan dengan menjaga sanitasi tanaman. Kedua secara kimiawi, yaitu perlakuan dengan pemberian insektisida. Sedangkan yang terakhir adalah perlakuan secara hayati yang dilaksanakan dengan menggunakan musuh alaminya.
Salah satu hama yang sering menyerang pertanaman tembakau adalah kutu daun (Myzus persicae Sulz). Hama yang berbentuk serangga ini bertindak sebagai vektor virus yang hidupnya pada daun bagian bawah. Hama ini menghisap cairan sel daun dan mengeluarkan ekskresi. Hasil yang dikeluarkan ini merupakan media pertumbuhan jamur yang sangat mengganggu proses fotosintesa.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


