Karantina Pertanian Antisipasi Membanjirnya Produk Pertanian China
Untuk mengantisipasi penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Asean dengan China pada awal 2010, Departemen Pertanian berupaya meningkatkan peran karantina pertanian.
Menteri Pertanian Suswono mengatakan ada dua instrumen teknis yang diharapkan mampu mengantisipasi kekuatiran membanjirnya produk pertanian China pasca penerapan FTA tersebut.
Instrumen teknis tersebut, tambahnya yakni Sanitary and Phytosanytary/SPS-WTO yang identik dengan perkarantinaan dan instrumen pengawasan keamaman pangan (Codex alimentarius standard).
"Jajaran karantina dan instansi terkait diharapkan mampu melaksanakan instrumen teknis ini," katanya ketika melakukan kunjungan kerja ke Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta Cengkareng.
Suswono menyatakan, pemberlakuan FTA Asean-China merupakan tantangan namun juga merupakan peluang pertanian dalam negeri untuk mendorong komoditas tropis Indonesia ke pasar negara tersebut.
Menurut dia, sejumlah komoditas buah tropis yang saat ini tinggi permintaannya ke China yakni buah manggis, salak, nanas, pisang dan rambutan. "Oleh karena itu kita tidak perlu kuatir dengan persaingan bebas," katanya. Untuk itu, lanjutnya, Badan Karantina Pertanian dituntut dapat membantu para pelaku usaha Indonesia memenuhi persyaratan teknis guna masuk ke pasar internasional.
Menteri menegaskan pihaknya telah menugaskan jajaran Deptan untuk mengembangkan dan memperkuat implementasi standar SPS-WTO melalui pembinaan, bimbingan dan bantuan teknis kepada petani guna mengembangkan komoditas strategis ekspor.
"Petani harus dibina untuk mengenal dan menerapkan standar nasional maupun internasional," katanya.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


