Update : Kamis, 11/03/2010
 
Proteksi

Gembalakan Itik ke Sawah untuk Pengendalian Keong Mas

Hama keong mas adalah salah satu hama yang mengakibatkan tingginya risiko gagal panen pada tanaman padi. Hama ini, sebagian orang menyebutnya dengan keong murbei, memakan batang dan daun padi berumur 15 hari. Serangan hama ini cukup membuat pusing para petani akibat populasinya dalam areal pertanaman yang sedemikian cepat perkembangbiakannya. 

Tanaman padi yang terserang bisa habis dari pucuk daun hingga ke batang muda padi. Akibatnya tanaman menjadi merana bahkan mengalami gagal panen. Tidak jarang petani harus menyulam tanamannya 2-3 kali akibat dari serangan hama ini. Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7-4 hari.

Di samping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60 - 80 hari), dan masing - masing kelompok telur berisi 300 - 500 butir. Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000 - 1200 telur per bulan. Padi yang baru ditanam sampai 15 hari setelah tanam mudah dirusak siput murbai, untuk padi tanam benih langsung (tabela) ketika 4 sampai 30 hari setelah tebar.

Siput murbai melahap pangkal bibit padi muda. Siput murbai bahkan dapat mengkonsumsi seluruh tanaman muda dalam satu malam. Tanda spesifik lain pada pertanaman padi yang terserang hama ini adalah adanya rumpun yang hilang serta adanya potongan daun yang mengambang di permukaan air.

Pengendalian Biologi
Agen pengendalian biologi alami, yang relatif mampu untuk mengendalikan populasi hama ini adalah: Semut merah memakan telur, bebek memakan daging dan siput muda, orang memakan dagingnya jika telah dimasak dengan benar, tikus sawah memakan rumah siput dan dagingnya. Pengendalian dengan moluskasida bersifat sementara, karena hanya mengatasi hama yang menempel di tanaman. Sedangkan keong mas di bawah permukaan air langsung menyusup ke dalam tanah. Keong mas mampu bertahan selama kurang lebih 2 tahun di dalam tanah dan oleh karenanya hama ini relatif sulit untuk diatasi. Namun penelitian yang dilakukan oleh Sri Purbowati dari Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang menggunakan formulasi tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli}. Gerusan 10 g patah tulang yang dilarutkan dalam satu liter air. Ekstrak disebar ke lahan seluas 20 m x 20 m saat pengolahan tanah. Hasilnya, keong mas yang tersembunyi di dalam tanah pun mati.

Tumbuhan Mengandung Racun
Dari segi kultur teknis maka beberapa hal perlu diperhatikan sebelum dilakukan teknis penanaman. Saat pengolahan tanah: Sebelum menggaru terakhir, ambil siput murbai dari sawah pagi dan sore hari ketika mereka aktif dan mudah diambil; Gunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi siput murbai. Misalnya kulit batang gugo (Entadaphaseikaudes K Meer), daun tumban kamisa, daun sembung (Blumea balsamifera), daun tuba, daun eceng (Monochoria vaginalis), daun tembakau (Nicotiana tabacum L), daun calamansi atau jeruk (Citrus microcarpa Bunge), akar tubli, daun (batrawali) makabuhay (Tinospora rumphii Boer), dan cabe merah; tanaman lain yang dilaporkan yaitu daun starflower (Calotropis gigantis), daun nimba (Azadirachta indica), dan asyang (Mikania cordata) mengandung bahan yang dapat membunuh siput murbai. Tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum tanam padi. Buatkan saluran kecil supaya siput murbai berada di dalam saluran tersebut dan tempatkan diatas saluran tersebut tumbuhan yang disebut di atas.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip