Update : Kamis, 11/03/2010
 
Proteksi

ASAP-CAIR POTENSIAL SEBAGAI PESTISIDA NABATI

Asap-cair merupakan bahan cair yang dihasilkan dari pembakaran terkontrol kayu-kayuan atau bagian tanaman lainnya bersifat antimikrobial. Asap-cair yang berasal dari tempurung kelapa telah digunakan untuk bahan pengawet ikan, tahu dan bahan makanan lainnya, serta digunakan sebagai pengganti asam semut untuk koagulan latek karet. Sebelumnya, banyak digunakan formalin untuk bahan pengawet makanan, terutama ikan dan tahu. Dengan adanya asap-cair, maka formalin yang membahayakan kesehatan manusia dapat diganti dengan asap-cair itu.

Saat ini, asap-cair dari tempurung kelapa telah banyak beredar di pasar yang prioritas utamanya adalah untuk bahan pengawet makanan dan koagulan latek. Bahan ini tidak membahayakan manusia, karena kandungan bahan yang berbahaya seperti senyawa Benzo(a)-piren atau yang biasa disebut tar sudah dihilangkan dalam proses awal pembuatannya.

Untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman hias, asap-cair belum dimanfaatkan. Padahal bahan nabati lainnya, seperti biji sirsak, biji mahoni, biji srikaya dan daun mindi telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama tanaman itu.

Melihat kandungan asap-cair tempurung kelapa seperti fenol dan formaldehid yang berfungsi sebagai antibakteri dan anticendawan, harganya yang relatif murah (sekitar Rp. 10.000-20.000/liter), dan aman terhadap lingkungan, maka asap-cair perlu dilirik untuk digunakan sebagai pestisida nabati pada tanaman, terutama pada tanaman hias.

Pada tahun 2007, Djatnika dan Evi Silvia, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, mencoba mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman gladiol yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f.sp. gladioli (F.o.g.) dengan menggunakan asap-cair tempurung kelapa grade 2. Ternyata, asap-cair itu dengan konsentrsi 10% sudah dapat menghambat pertumbuhan koloni cendawan patogen tadi pada media biakan, tetapi setelah 4 hari cendawan itu mulai bertumbuh lagi. Hal itu berbeda bila dengan menggunakan konsentrasi minimal 20%, cendawan itu tidak tumbuh lagi alias mati.

Melihat hambatan pertumbuhan F.o.g. oleh asap-cair mulai konsentasi 20%, tentu harus dilihat pengaruhnya terhadap tanamannya, terutama pada anak-subang (cormel) dan subang (cormel) gladiol. Ternyata dengan konsenttrasi asap-cair sampai 100% pun yang digunakan untuk merendam anak-subang dan subang gladiol selama 5 menit tidak menimbulkan kerusakan pada bagian tanaman gladiol itu. Bahkan, perendaman itu merangsang terjadinya perakaran pada anak-subang itu. Hal ini dapat terlihat dari anak-subang yang hanya direndam dalam air biasa dan yang direndam dalam asap-cair.

Yang direndam dalam asap-cair minimal 10%, anak subang sudah memperlihatkan tanda-tanda perakaran 10 hari setelah perlakuan, sedangkan dengan air masih belum ada tanda-tanda itu.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip