Dalam AC-FTA Negara-negara Asean Tak Semestinya Saling Mematikan
Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec Wakil Rektor IPB
Prof. Hermanto Siregar mengatakan sebaiknya antar negara Asean tidak bersaing saling mematikan dalam perjanjian perdagangan bebas Asean China (Asean-China Free Trade Agreement). Negara-negara Asean minus China harus bisa bersatu untuk memperkokoh posisi tawar Asean di pasar dunia dan saling menolong di perdagangan antar Asean.
“Dalam perdagangan bebas termasuk di perdagangan bebas Asean dan China, begitu kita sudah meratifikasinya maka timing atau waktu sangat penting,” tambah Prof Herman Siregar wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Sumberdaya dan Pengembangan kepada Sinar Tani di Bogor. Siapa yang memulai pertama meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas pasti dialah yang pertama mendapatkan keuntungan yang besar. Namun setelah ada pelaku lain masuk, maka harganya akan turun dan pendapatannya pun menurun.
Pada sisi lain, dalam pasar bebas kalau kita salah maka kita akan kemakan sama yang lain, dan produk kita kalah bersaing.
Yang perlu kita lakukan dalam pasar bebas Asean-China itu adalah bagaimana negara-negara Asean minus China bisa kompak dan tidak bersaing di antara negara-negara Asean untuk saling mematikan. Contoh, pertama, Indonesia dan Malaysia dalam hal memasarkan CPO-nya tidak perlu pakai standar harga di Rotterdam, melainkan misalnya bisa dibuat di Malaysia. Hal ini semestinya bisa dilakukan karena Indonesia dan Malaysia adalah menguasai 80 persen produksi CPO dunia. Kalau di Rotterdam berarti yang mengontrol harga adalah pembeli, namun bila bisa di Malaysia maka yang mengontrol harga adalah produsen.
Kedua, untuk komoditi beras, kalau negara-negara Asean bersatu maka kita bisa mengontrol harga ekspor beras, karena potensi dan produksi beras Asean kuat sekali. Misalnya bisa diberlakukan untuk ekspor beras antar negara Asean harganya normal, tapi kalau untuk negara di luar Asean harganya lebih tinggi.
Ketiga, untuk jagung. Saat ini yang kuat diproduksi jagung adalah Amerika Serikat dan Amerika Latin. Namun negara-negara Asean juga punya potensi untuk menjadi produsen jagung utama di dunia.
Untuk bisa menyatukan perdagangan antar negara Asean itu maka langkah pertama yang perlu ditempuh adalah harus ada Asean Charter. Asean Charter ternyata sudah ada dan kesepakatannya dilakukan di Bali. Kedua ada aksi kegiatan yang jelas. Mentan dan Mendag Asean harus duduk bersama untuk memfokuskan Common Asean Policy (CAP) ini. Pada tahap awal bisa dilakukan untuk komoditi sawit dan karet. Kemudian diikuti beras dan jagung.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


