Bangka-Belitung Mengembangkan BERAS ARUK
Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang berjarak kurang lebih 75 km dari Kota Pangkal Pinang ke arah barat dengan jumlah penduduk sebesar 3.867 jiwa (640 KK). Topografi Kecamatan Tempilang adalah datar bergelombang, potensi wilayahnya didominasi oleh lahan perkebunan.
Mata pencaharian masyarakat Desa Tempilang sebagian besar adalah petani perkebunan kelapa sawit, petani perkebunan lada, nelayan serta pekerja tambang timah. Kondisi perekonomian masyarakat Desa Tempilang tergolong sejahtera yang dapat dilihat dari kondisi perumahan yang permanen (batu bata) dan dengan tingkat pendidikan generasi muda rata-rata sampai pada tingkat Perguruan Tinggi.
Masyarakat Desa Tempilang mengkonsumsi beras aruk sebagai pangan pokok (sumber karbohidrat) secara turun temurun, sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang dikarenakan beras sulit didapatkan serta kondisi lahan yang tidak potensial untuk dijadikan persawahan.
Sementara singkong dapat tumbuh subur di wilayah tersebut. Dari kesulitan memperoleh pangan tersebut masyarakat berinisiatif mengolah ubi kayu menjadi makanan pengganti beras, sehingga ditemukan pangan alternatif dari ubi kayu tersebut. Asal muasal nama "aruk" belum diketahui, hanya masyarakat di Bangka Belitung menyebut beras ubi kayu dengan nama "aruk".
Sebagai sumber karbohidrat utama non beras, beras aruk dikonsumsi bersama dengan sayur, terutama sayur bersantan dan lauk ikan laut. Sampai dengan tahun 80-an aruk masih banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok oleh masyarakat Kecamatan Tempilang, namun saat ini sudah jarang dikonsumsi dan hanya dijadikan sebagai makanan 'klangenan' masyarakat dalam bentuk menu sarapan pagi dan makanan cemilan oleh sebagian masyarakat Desa Tempilang (± 500 KK) serta sebagai makanan pokok pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada saat pesta.
Dengan semakin besarnya peluang pasar beras aruk yang dikarenakan semakin besarnya animo masyarakat terutama pendatang (etnis Tiong Hoa), Kelompok PKK Desa Tempilang di bawah bimbingan Kepala Desa mulai menggalakkan kembali pembuatan beras dan membantu pemasarannya. Diharapkan beras aruk nantinya semakin mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau, sehingga menjadi pilihan alternatif pangan pokok non beras oleh masyarakat yang menjadi ujung tombak keberhasilan diversifikasi pangan.


