PUYUH, KECIL MENARIK TAK DILIRIK
Peternakan merupakan sub sektor pertanian yang dikelola secara sambilan di dalam rumah tangga pertanian. Jarang dari keluarga petani yang mengandalkan hidup dari sektor peternakan ini, disebabkan ketidak mengertian para pelaku utama. Dalam hal ini petani, mengelola peternakan hanya sebatas tabungan keluarga yang diambil sewaktu-waktu sesuai kebutuhan. Padahal ternak merupakan produk pertanian yang dibutuhkan sebagai gizi keluarga karena mengandung protein hewani dan asam amino esensial yang sangat dibutuhkan manusia.
Anggapan bahwa usaha ternak membutuhkan modal banyak, tidaklah selalu benar. Contoh kecil adalah dengan beternak beberapa ekor kambing atau domba, atau beberapa ekor ayam beserta indukannya, dan juga lahan yang dipergunakan tidaklah luas. Satu lagi ketersediaan pakan untuk ternak sangat banyak dan berlimpah. Kurang berkembangnya sektor peternakan di Indonesia khususnya di pedesaan disebabkan oleh banyak hal di antaranya kurangya perhatian terhadap sektor ini karena merupakan suatu usaha subsistem pertanian.
PUYUH (COTURIMIX JAVANIC)
Puyuh adalah sejenis unggas yang telah lama dibudidayakan orang untuk kepentingan konsumsi baik telur maupun daging. Mempunyai bentuk badan kecil hampir sebesar burung tekukur, cenderung beraktivitas di tanah. Produktivitas bertelur cukup tinggi (200-270 butir/tahun) dengan masa produksi 18 bulan maksimal 22 bulan. Jantan berwarna hitam muda berbintik dan betina coklat berbintik. Cukup banyak strain atau jenis puyuh yang dibudidayakan di Indonesia.
Budidaya puyuh tidak terlalu sulit, pemeliharaannya tidak jauh berbeda dengan peternakan ayam petelur. Baik dari segi pemeliharaannya maupun dari teknik penanganannya. Begitu juga dengan penyakit yang menyerang ayam bisa juga menyerang puyuh.
Belum adanya perhatian dari pihak pemerintah dan swasta dalam penyediaan bibit membuat peternak kreatif dengan mengawin silangkan puyuh-puyuh peliharaannya, akibatnya adalah kualitas puyuh menjadi menurun karena adanya persilangan sedarah. Pembibit atau breeder di Indonesia yang mengkhususkan dalam penyediaan anakan puyuh (DOQ) belum sebanyak pembibit ayam broiler maupun petelur. Dari pihak pemerintah sendiri maupun perguruan tinggi hanya sebatas penelitian saja, padahal ternak tersebut nyata-nyata dapat membantu dan meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan.
PEMASARAN
Hasil utama dari peternakan puyuh adalah telur dengan berat rata-rata per butir mencapai 11 gram, artinya dalam setiap kilogram telur puyuh terdapat 87-90 butir telur. Akan tetapi di dalam pemasarannya telur puyuh dijual dalam bentuk butir yang mencapai harga rata-rata di pasar Rp 175/butir. Dari harga tersebut tercapai titik impas pada posisi Rp 165/butir, jadi keuntungan yang didapat dari satu butir telur adalah sebesar Rp 15. Kecil memang. Tapi kalau dikali jumlah populasi yang ada akan terlihat hasil yang menggiurkan.
Pemasaran telur puyuh tidaklah terlalu sulit, pangsa pasar di wilayah Kabupaten Bogor maupun kota, sangat mendukung. Selama ini pasokan telur puyuh berasal dari Kabupaten Sukabumi ataupun berasal dari Jawa Tengah khususnya daerah Yogya, dan sekitarnya. Kebutuhan telur puyuh untuk Bogor berkisar antara 300-340 ribu/minggu.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


