Update : Senin, 26/07/2010
 
Peluang Usaha

LISTRIK DARI LIMBAH SAWIT

PT. Kreatif Energi Indonesia (KEI) akan membangun proyek pembangkit listrik berbasis biogas dari limbah cair kelapa sawit pertama di Indonesia. Proyek akan dibangun di Langkat, Sumatera Utara, mulai April mendatang dengan investasi Rp. 20 miliar dan akan menghasilkan energi listrik 4 megawatt (MW). “Pengembangan proyek ini menggunakan teknologi biodigestor yang sangat sesuai dengan iklim Indonesia dan kami harap sudah bisa beroperasi akhir 2010”, ujar Eka Bukit, Direktur Operasional PT. KEI di sela-sela pemaparan proyek tersebut di ruang rapat Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan.

Eka mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi yang sangat besar untuk menerapkan proyek pengolahan limbah PKS menjadi energi, mengingat Indonesia memiliki luas areal tanam sawit sebesar 7,12 juta hektar yang menghasilkan produksi CPO sebesar 20 juta ton.

Tercatat, Indonesia memiliki 400 unit pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas terpasang 16.000 TBS per jam. Dari jumlah tersebut dapat dihasilkan limbah dalam jumlah yang cukup besar yaitu sebesar 0,55 m3 limbah cair per ton tandan buah segar (TBS) yang diolah dan 0,23 ton tandan kosong (TKS) per ton TBS yang diolah. Eka melanjutkan, proyek ini akan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. “Proyek ini tentu sangat bermanfaat dalam menambah pasokan listrik dalam negeri mengingat saat ini tengah terjadi krisis listrik di berbagai daerah di Indonesia”, ujar Eka.

Nantinya, listrik yang dihasilkan sebesar 1,5 MW akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik. Sedang 2,5 MW sisanya akan dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga sesuai skema excess power (kelebihan produksi) jaringan rendah sebesar Rp. 785 per kilowatt per jam (Kwh). “Tarif ini sesuai SK Menteri ESDM untuk pasokan listrik sebesar Rp. 600 per kwh plus insentif Rp. 185 per kwh untuk daerah di luar Pulau Jawa," ujarnya.

Dia mengatakan, PT. KEI akan bekerja sama dengan PKS berkapasitas 30 ton TBS kelapa sawit per jam milik PT Harapan Tani. Skema kerjasama ini akan menggunakan sistem bagi hasil karena seluruh nilai investasi akan ditanggung PT KEI. “Jika dikalkulasi PKS berkapasitas paling minim 30 ton TBS per jam akan menerima pendapatan US$ 800.000 per tahun, dan diperkirakan PKS akan balik modal dalam jangka waktu 3 tahun”, ujarnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) mengharapkan ke depannya seluruh pabrik kelapa sawit (PKS) dalam negeri mengolah limbah buangan industri menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. “Kita ingin agar industri pengolahan kelapa sawit tidak lagi menghasilkan limbah buangan dan dapat memanfaatkan limbah buangan cair atau padat secara keseluruhan”, ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Achmad Manggabarani, di Jakarta.

Achmad mengungkapkan, saat ini beberapa kebun kelapa sawit skala menengah ke bawah yang dimiliki 200 pabrik kelapa sawit (PKS) dalam negeri belum benar-benar memanfaatkan limbah buangan dan masih berfokus hanya pada produksi Crude Palm Oil (CPO). “Pemanfaatan limbah ini penting dilakukan, karena selain menjaga kelestarian lingkungan hidup juga mendatangkan keuntungan bagi PKS itu sendiri”, ujarnya.

Arsip