Menguji Kentang Rekayasa Genetik Toleran Penyakit Busuk Daun
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan sumber karbohidrat ke empat di dunia. Sentra produksi kentang di Indonesia masih terbatas pada dataran tinggi yang memiliki curah hujan dan kelembaban yang cukup tinggi. Keadaan tersebut sangat kondusif bagi perkembangan berbagai penyakit, salah satunya penyakit hawar daun (Phytopthora infestans (Mont) de Barry.
Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh penyakit ini antara 60 - 80 % (Wattimena. 1994), bahkan pada serangan yang sangat parah dapat mengakibatkan kehilangan hasil sampai 100 %.
Penggunaan varietas yang rentan turut memicu tingkat keparahan serangan penyakit hawar daun tersebut. Seperti halnya dilaporkan oleh Kusmana (2003), Granola dan Atlantik merupakan varietas kentang menjadi pilihan utama petani dan mendominasi sekitar 90 % areal tanam kentang di Indonesia. Kedua varietas tersebut tidak tahan terhadap penyakit hawar daun.
Varietas kentang yang resisten merupakan solusi yang cukup menjajikan untuk mengurangi kehilangan hasil akibat penyakit hawar daun. Varietas Repita yang tahan terhadap penyakit hawar daun belum diadopsi petani, petani lebih memilih pengendalian dengan menggunakan fungisida secara berlebihan. Hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan, di samping itu juga akan menambah biaya produksi sehingga pendapatan petani akan berkurang.
Beberapa sumber resistensi terhadap penyakit hawar daun (P. Infestang) terdapat pada beberapa spesies kentang liar, seperti S. demissum, S.bulbocastanum, S. stobniferum, S. microdontum (Hawkes, 1994). Gen resistensi terhadap hawar daun (gen RB) yang berasal dari S. bulbocastanum sudah diklon dan dipetakan pada lokasi spesifik di kromosom 8 (Song et a/., 2003) dan telah dimanfaatkan dalam perakitan kentang resisten hawar daun yaitu Katahdin-Rb. Pada seleksi hasil persilangan Katahdin –Rb dengan Granola dan Atlantic menghasilkan keturunan yang toteran terhadap infeksi penyakit busuk daun.
Perakitan kentang transgenik varietas Katahdin tahan P. infestans menggunakan gen RB tersebut telah berhasil dilakukan melalui teknik rekayasa genetik dengan Agrobacterium tumefaciens di University of Wisconsin, AS. Pengujian awal Katahdin-Rb ketahanannya terhadap P. infestans selama dua tahun di Minnesota, Wisconsin, dan di International Potato Late Blight Testing Program Toluca, Mexico, (PICTIPAPA) berhasil mengekspriskan sifat penghambatan munculnya infeksi penyakit busuk daun.
Pengujian tahun 2004 terhadap kentang transgenik Katahdin juga dilakukan di negara bagian Washington, hasilnya konsisten menunjukkan bahwa gen RB yang berada di dalam kentang transgenik varietas Katahdin dapat mengendalikan penyakit hawar daun (P. infestans) pada awal musim (early-season), tetapi tidak mengendalikan P. infestan pada akhir musim (late-season).
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


