Update : Senin, 26/07/2010
 
Pangan

PERLU KESESUAIAN PRODUKSI JAGUNG DENGAN SIKLUS INDUSTRI PAKAN TERNAK

Target Swasembada jagung telah dicapai oleh Indonesia, tapi belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak dan unggas. ”Hal ini disebabkan belum adanya integrasi dan kesesuaian antara produksi jagung di Indonesia dengan siklus kebutuhan industri pakan”, ujar Wakil Menteri Pertanian, Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi di Karawang, Jawa Barat.

Bayu mengatakan, berdasarkan produksi jagung secara umum Indonesia memang sudah swasembada, akan tetapi sebagian besar jagung yang diproduksi adalah jenis jagung manis yang kurang sesuai untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pakan. “Swasembada jagung belum bisa memenuhi kebutuhan jenis jagung kering yang digunakan sebagai bahan baku industri pakan”, ujarnya.

Hal ini mengakibatkan masih tingginya impor jagung kering oleh para produsen industri pakan. Satu pabrik industri pakan bisa memerlukan 60.000 – 150.000 ton jagung kering dalam sekali pembelian. Selain itu, lanjut Bayu, industri pakan membutuhkan pasokan bahan baku secara berkelanjutan. “Impor masih dilakukan karena produksi jagung jenis kering dalam negeri yang dibutuhkan oleh industri pakan belum mencukupi baik secara kuantitas dan kontinuitas”, ujarnya.

Bayu mengatakan dengan penggunaan teknologi tinggi yang ada saat ini diharapkan nantinya dilakukan sebuah penemuan baru yang dapat menyesuaikan produksi jagung di lapangan dengan kebutuhan industri pakan.

Terkait dengan harga pakan, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Fx Sudirman mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan harga jual pakan ternak sangat berfluktuasi karena dipengaruhi oleh harga beberapa bahan baku impor. “Kita mengharapkan agar produksi jagung dalam negeri dapat memenuhi kapasitas perusahaan pakan. Jika hal tersebut bisa dilakukan maka harga jual pakan bisa lebih stabil”, jelasnya.

Arsip