PELUANG MENJALANKAN USAHA SILO JAGUNG DENGAN BAHAN BAKAR SEKAM
Permintaan jagung untuk keperluan konsumsi maupun bahan baku industri pakan ternak cenderung terus meningkat yaitu sebesar 10 - 15% per tahun. Untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan jagung, Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produksi jagung nasional. Pada tahun 2010, Kementerian Pertanian mentargetkan produksi jagung sebesar 15,9 - 16,5 juta ton dengan luas areal 4,25 juta hektar.
Pengguna jagung yang terbesar adalah pabrik pakan ternak skala besar yang memerlukan jagung rata-rata 4,5 juta ton per tahun (kebutuhan riil), menyusul kebutuhan makanan dan pabrik mini pakan ternak sebanyak 2,2 juta ton, serta konsumsi langsung manusia sebesar 1,1 juta ton per tahun.
Indonesia masih mengimpor jagung lebih kurang sebesar 1 juta ton per tahun. Padahal produksi jagung nasional diperkirakan mencukupi. Karena itu, diperlukan suatu strategi pengembangan agribisnis jagung melalui pengembangan usaha silo jagung agar produksi yang ada bisa dimanfaatkan pengguna jagung di dalam negeri. Upaya ini sekaligus untuk mendukung program revitalisasi teknologi dan industri hilir yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian.
Dalam rangka revitalisasi teknologi dan industri hilir tersebut, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian pada tahun 2006 membangun unit usaha silo jagung sebanyak 18 unit terdiri dari 16 unit berkapasitas 50 ton dan 2 unit berkapasitas 200 ton yang tersebar di 18 kabupaten dan pada tahun 2007, dibangun 38 unit usaha silo jagung berkapasitas 50 ton yang tersebar di 38 kabupaten serta pada tahun 2008, dibangun 2 unit usaha silo jagung berkapasitas 50 ton, jadi seluruhnya terdapat 58 unit usaha silo jagung yang tersebar di 56 Kabupaten dan 20 propinsi.
Tujuan pengembangan unit usaha silo jagung tersebut antara lain: Mensubstitusi atau mengurangi impor jagung kebutuhan industri pakan ternak besar dalam negeri; Meningkatkan mutu jagung sesuai kebutuhan industri pakan ternak; Meningkatkan harga jagung sehingga diperoleh keuntungan yang proporsional bagi petani dan pelaku usaha silo jagung; dan Meningkatkan pendapatan petani jagung.
Dari hasil evaluasi diperoleh kesimpulan pengembangan usaha silo jagung saat ini masih berjalan lambat dan masih belum optimal. Hanya sekitar 9 unit usaha silo jagung dari 58 unit (16%) yang diperkirakan dapat operasional atau berjalan dengan baik. Ada beberapa penyebabnya, di antaranya masalah teknis, sosial maupun ekonomi. Permasalahan teknis yaitu antara lain alokasinya kurang tepat dan masih rendahnya kemampuan dan ketrampilan operator (mekanik) dalam mengoperasikan mesin silo jagung secara baik dan benar. Sedang masalah sosial yaitu pada umumnya budaya petani di pedesaan dalam melakukan usahanya masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga (subsisten), jadi belum berorientasi pada pasar (market oriented) atau berorientasi agribisnis. Kecuali itu, unit usaha silo jagung belum memiliki bentuk organisasi/ kelembagaan yang mampu menghadapi perubahan dengan cepat, karena struktur organisasi internalnya masih sederhana (mendekati organisasi lini) dan tidak memiliki job description dan penanggung jawab yang jelas.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)
Arsip
- Bazar Murah HKP ke 38 Tahun 2010, Harga Pangan Naik karena Permasalahan Distribusi
- Meniru Bulan Mutu Jepang Untuk Mutu Pertanian Indonesia
- Ditjen P2HP Evaluasi Pelaksanaan LM3
- Mewujudkan Industri Pengolahan Hasil Pertanian yang Berdaya Saing, Bernilai Tambah dan Berorientasi Pasar
- Mewujudkan Industri Pengolahan Hasil Pertanian yang Berdaya Saing, Bernilai Tambah dan Berorientasi Pasar
- Arsip Lainnya...


