Update : Kamis, 11/03/2010
 
Nusantara

Petani Aceh Masih Butuh Teknologi PTT Padi

Upaya mendongkrak produktivitas padi sawah di Aceh yang saat ini rata-rata 4,2 ton/ ha terus dilakukan. Salah satunya dengan menerapkan pola Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NAD sejak lima tahun terakhir gencar mensosialisasikan PTT ke seluruh kabupaten melalui demplot atau petak percontohan.

”Hingga sekarang, para petani di Aceh masih membutuhkan teknologi PTT padi yang murah dan mudah, sehingga dapat meningkatkan produksi sekitar 10 persen. Uji coba pada lahan petani selama ini, melalui pendekatan PTT telah berhasil meningkatkan produktivitas rata-rata 7-8 ton/ ha,” ujar Ir T. Iskandar, MSi.

Iskandar optimis, jika program PTT ini diadopsi secara meluas oleh petani, maka Aceh akan surplus beras. Namun perlu dukungan semua pihak terutama Dinas Pertanian, lembaga penyuluhan dan perbankan secara konprehensif. Dikatakan minat petani untuk mengadopsi teknologi yang dihasilkan BPTP dan lembaga penelitian cukup responsif.

”Sayangnya BPTP hanya mampu melakukan demplot seluas 1 hektar, sedangkan pengembangannya kita harapkan oleh pemerintah daerah,” ujar Iskandar saat melakukan penanaman padi pada demplot di Desa Maheng Kecamatan Kuta Cot Glie Aceh Besar baru-baru ini.

Dalam pendekatan PTT, menurut Iskandar yang paling ditekankan adalah memanfaatkan sumberdaya yang ada. Meskipun ada sepuluh hal yang bisa dilakukan sebagai upaya meningkatkan produksi padi, namun perlu disesuaikan dengan potensi setempat. Beberapa hal yang bisa diterapkan antara lain, penggunaan pupuk kandang, benih unggul, tanam satu batang perlubang, umur bibit muda (12 – 15 hari) dan penggunaan Bagan Warna Daun untuk takaran Nitrogen.

Tahun 2009, BPTP NAD akan melakukan demplot PTT di sejumlah Kabupaten seperti Aceh Jaya, Nagan Raya dan Aceh Timur, sedangkan tahun sebelumnya juga telah dilakukan di beberapa wilayah dengan melibatkan Dinas terkait dan tenaga penyuluh lapangan.
 

Arsip