Beras SRI Tasik Ikut Pameran di Jerman
SETELAH sukses melakukan ekspor beras ke Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, produk padi organik dari teknik penanaman dengan system rice intensification (SRI) Kabupaten Tasikmalaya akan ikut dipamerkan dalam pameran produk ramah lingkungan di Jerman pada Januari 2010.
Hal itu diungkapkan Ir.H.Henry Nugroho MP Kepala Dinas Pertanian Tasikmalaya kepada Sinar Tani, pekan kemarin. “Setelah mengikuti ajang pameran di Jerman tersebut, kami berharap permintaan terhadap ekspor beras organik akan terus meningkat. Dengan demikian, dapat lebih melambungkan nama Kabupaten Tasikmalaya khususnya, juga ikut mengharumkan nama Indonesia di kancah perdagangan produk ramah lingkungan di dunia,” ujarnya.
Henry Nugroho mengatakan, bahwa saat ini ekspor ke Malaysia masih menunggu kapal dan barangnya sudah terkumpul di gudang sebanyak 18 ton, dengan kemasannya dibuat sendiri dalam ukuran masing-masing 2 kg. Meskipun di sana akan kembali dijual kepada masyarakat secara luas, teknik penanaman dan sebagainya, petani kami enggan memberikan penjelasan di sana,” paparnya.
Sedangkan ekspor lain yang saat ini masih berada dalam daftar tunggu adalah ekspor ke Singapura. Sebab, negara tersebut meminta ekspor dengan kemasan plastik sesuai desain dan permintaannya. ”Tetapi, kami menetapkan juga desain dari kami dengan tertera label Kabupaten Tasikmalaya, sertifikasi dari IMO Swiss, dan sejumlah hal lain yang merupakan hak produk kami,” tegas Kadis Pertanian Kab. Tasikmalaya.
Dengan cukup tingginya permintaan ekspor beras SRI ke sejumlah negara, menurut Ketua Gapoktan Simpatik Uu Saeful Bahri, tentu saja membuat para petani padi SRI Kabupaten Tasikmalaya kesulitan melakukan pemilihan berasnya yang hingga saat ini masih dilakukan secara manual.
”Sortir ini sangat penting, karena juga menyangkut kualitas beras yang kami jual. Namun, saat ini kendalanya masih dilakukan secara manual, sehingga tentunya cukup lamban. Apalagi jika pesanan yang jumlahnya sangat banyak. Kami kerepotan juga menghadapinya,” jelas Uu Saeful Bahri.
Sedangkan jika membeli color sortir, harganya sangat mahal yakni mencapai Rp.750 juta. Kalau dengan manual seperti yang selama ini dilakukan, maka dalam sehari warga yang dipekerjakan memilah beras hanya mampu menghasilkan 5 kg. “Kalau harus membeli mesinnya mahal, saya sangat berharap pemerintah bisa memberikan bantuan untuk mesin ini,” katanya.
Uu Saeful Bahri mengatakan, pemberian bantuan Pemprov Jawa Barat ataupun dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dirasakan sudah selayaknya diberikan kepada Pemkab Tasikmalaya. ”Kami harap, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat kiranya dapat membantu kendala yang kami hadapi mengenai pengadaan mesin sortir untuk memilah kualitas beras SRI,” ujar Ketua Gapoktan Simpatik.


