Update : Senin, 26/07/2010
 
Nusantara

Benih Padi di Jabar Bakal Diganti Mulai Tahun 2011

SELAMA ini, petani di Jawa Barat selalu menggunakan benih padi jenis Ciherang dan IR-64, bahkan menjadi unggulan dalam menggarapan lahan pertanian padinya. Namun, kedua jenis padi tersebut dalam dua tahun ke depan akan digantikan bertahap, tepatnya mulai tahun 2011. Karena telah digunakan cukup lama hingga produktivitasnya stagnan.

"Karena telah digunakan petani cukup lama, maka, benih ciherang dan IR-64 di Jabar secara alamiah telah mengalami degradasi karena sudah digunakan cukup lama, sehingga produktivitas mengalami stagnasi," ungkap Helmy Anwar, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Distan) Jabar

Helmy mengatakan, bahwa rata-rata produktivitas padi di Jabar sekitar 5,9 ton per hektare. Sedangkan mekongga dan inpari mampu menghasilkan produktivitas mencapai 7 ton per ha berdasarkan hasil uji coba. ”Penggunaan benih ciherang dan IR-64 masih mendominasi lahan padi di Jabar dengan luasan sekitar 2 juta ha sejak beberapa tahun terakhir," katanya.

Selanjutnya dia mengatakan, generasi benih yang digunakan sudah di atas generasi ke-7 (F7), sehingga diperlukan benih baru untuk menunjang peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas. Dengan demikian, semakin lama suatu varietas benih digunakan, ketahanan terhadap penyakit juga akan semakin berkurang. Benih akan semakin rentan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman yang berpotensi menurunkan tingkat produktivitas.

"Ibarat ketika manusia semakin tua usianya, kemampuan fisiknya akan terus melemah. Hal ini juga berlaku bagi benih padi yang sudah digunakan selama bertahun-tahun tanpa adanya perubahan," tuturnya.

Menurutnya, dalam setahun Jabar membutuhkan sedikitnya 47.000 ton benih untuk ditanami pada sekitar 2 juta ha lahan padi. Bantuan benih unggul yang diberikan pemerintah rata-rata untuk sekitar 300.000 ha diberikan untuk demplot uji coba. "Kami menyadari membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengubah kebiasaan petani yang sudah terbiasa dengan varietas benih yang lama. Apalagi sebagian besar petani di Jabar cenderung fanatik terhadap varietas tertentu," jelas dia.

Sekretaris Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jabar Rali Sukari menuturkan, sulit bagi pemerintah meyakinkan petani untuk mengganti seluruh benih ciherang dan IR-64 dalam kurun waktu dua tahun. Saat ini, penggunaan benih ciherang masih menguasai sekitar 75% dari total luas lahan persawahan. Sementara, varietas IR-64 sekitar 15%, hibrida 5%, serta mekongga dan inpari baru 5%.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip