Update : Kamis, 11/03/2010
 
Nasional

MAI LUNCURKAN PROGRAM PEDULI MASYARAKAT MISKIN (P2M2)

Dewan Pimpinan Nasional Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (DPN-MAI) dalam rangka memperingati HUT ke-11 tanggal 10 Februari 2010 meluncurkan Program Peduli Masyarakat Miskin (P2M2). Program ini dilaksanakan di Desa Nagrak, Kabupten Bogor dengan menfasilitasi setiap peternak dengan 5 ekor kambing terdiri dari 4 ekor betina dan 1 ekor jantan. Desa Nagrak dikelilingi perumahan elit dan lapangan golf akan tetapi dari jumlah penduduk sekitar 350 orang, sekitar 50% di antaranya termasuk golongan miskin.

”Dalam upaya MAI meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin, tidak lagi berwacana, tetapi dengan tindakan nyata”, kata Dr. Iskandar Andi Nuhung, Ketua Umum MAI, ketika meluncurkan program ini di Rumah Makan Dapur Sunda di kawasan Mega Kuningan, Kamis malam (4/2). Hadir pada peluncuran P2M2 ini para pengurus lainnya seperti S. Simanjorang, Diana Dewi, Ayu, Ali D dan Husein Sawit.

Untuk menyeleksi para peternak agar bersungguh-sungguh ingin mengikuti program ini mereka harus mempersiapkan kandang kambing terlebih dahulu. Walaupun beternak kambing di desa ini sudah biasa dilakukan peteranak, namun untuk membimbing para peternak agar benar benar memelihara kambing dengan tehnologi pemeliharaan kambing yang baik, MAI telah meminta bantuan tenaga para Mahasiswa dari Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengawal program ini. Bahkan agar pemerintahan desa setempat juga memberikan dukungan terhadap keberhasilan program ini. MAI menyediakan dana pembinaan. MAI sangat berharap agar program ini berhasil, karena program ini merupakan program yang bergulir maka diharapkan seluruh penduduk desa akan tersentuh.

Bagi MAI program pemberdayaan masyarakat ini bukanlah sesuatu yang baru. Karena MAI telah membantu petani kelapa sawit di Sumatera Selatan, dan membantu nelayan di Sulawesi Tengah untuk pemeliharaan rumput laut.

Yang menarik dari program ini mengenai sumber pembiayaan. ”Sumber pembiayaan P2M2 ini murni merupakan gotong royong dari para pengurus MAI yang bersedia menyisihkan sebagian dari rejekinya”, kata Iskandar Andi Nuhung.

Dalam kesempatan itu juga Ketua Umum MAI Iskandar Andi Nuhung menyoroti tentang CAFTA. ”Perlu dipahami dan dicermati adalah kemampuan China untuk berproduksi dengan tingkat harga yang murah yang dapat mengancam eksistensi produk produk pertanian Indonesia yang sebagian di antaranya relatif belum efisien”, kata Ketum MAI ini.

Untuk menghadapi CAFTA ini, MAI mengajukan pemikiran perlunya minimal 3 langkah yang harus dilakukan yaitu (1) peningkatan efisiensi produksi berupa peningkatan produktivitas dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, penurunan suku bunga bank dan perbaikan skala usaha, (2) perbaikan kualitas produksi melalui perbaikan pasca panen, packaging, sistem pengangkutan dan penyimpanan yang baik, (3) menjamin supply yang berkelanjutan.

Arsip