15 Komoditas Unggulan Bisa Sumbang Devisa Hingga Rp. 1.500 Triliun
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan potensi 15 produk unggulan nasional bisa memberikan kontribusi devisa hingga US$ 150 miliar atau sekitar Rp. 1.500 triliun dalam periode 5 tahun (2010-2014) jika dimanfaatkan secara maksimal. Melalui ambisi program Feed the World (memasok pangan global) Kadin yakin devisa sebesar itu bisa tercapai.
"Kalau dimaksimalkan bisa naik 50% dari perkiraan US$ 101,5 miliar, potensinya bisa sampai US$ 150 miliar," kata Wakil Ketua Umum Kadin Franky Widjaja dalam acara konferensi pers, di JCC, Senayan, Jakarta.
Seperti diketahui Kadin telah merumuskan 15 komoditas unggulan nasional yang menjadi katalis atau lokomotif penggerak sektor komoditas pangan nasional.
Beberapa komoditas itu antara lain 4 komoditas pangan strategis yaitu beras, jagung, gula, dan kedelai. Selain itu ada 6 komoditas unggulan ekspor seperti sawit, kakao, tuna, udang, kopi, dan teh. Ada juga 2 komoditas ternak pendukung perbaikan gizi masyarakat yaitu daging sapi dan ayam. Sedangkan 3 sisanya adalah komoditas buah-buahan populer yaitu mangga, pisang, dan jeruk.
Franky menambahkan potensi devisa sebesar US$ 150 miliar bisa tercapai jika dari 15 komoditas dikembangkan produk turunannya.
Program Feed The World digagas oleh Kadin yang mencoba membuat terobosan terhadap permasalahan pangan nasional dan dunia, pasca krisis pangan dunia pada tahun 2007 lalu.
Feed the World berambisi bisa menjadikan Indonesia bukan hanya berswasembada pangan nasional namun juga bisa memasok bahan pangan dunia.
Menteri Pertanian Suswono saat ditemui di acara tersebut menambahkan, “Saya kira apabila kita sudah berswasembada dan produksi pangan kita berlebih sudah saatnya kita memberikan kontribusi untuk pangan dunia. Dan apa yang diprakarsai Kadin saat ini adalah salah satu yang positif, kita punya produk unggulan, hanya saja pemasaran kita saja yang kurang, kita akan melibatkan duta besar yang ada di luar negeri untuk membantu pemasaran kita agar mereka proaktif”, ujar Mentan.
Ditambahkan Suswono, “Selama ini ironis, produk unggulan kita yang memasarkan justru Singapura atau negara lain yang mengekspor, kalau kita bisa langsung memasarkannya ke pasar yang dituju akan menambah nilai jual”, tambah Mentan.


