Update : Selasa, 07/09/2010
 
Mimbar Penyuluh

VARIETAS UNGGUL: Salah Satu Upaya Tingkatkan Produksi Kedelai

Salah satu inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai adalah varietas unggul. Kurun waktu 1918 hingga 2008, setidaknya ada 70 varietas kedelai yang telah dilepas dan disebarkan kepada petani.

Sebuah Tantangan:
Seiring pertumbuhan penduduk, kebutuhan bahan pangan pun terus meningkat, komoditas kedelai misalnya. Pada tahun 2007 saja, kebutuhan kedelai telah mencapai angka 2 juta ton. Namun di sisi lain, tingginya kebutuhan belum diikuti meningkatnya produksi. Badan Litbang Pertanian melaporkan bahwa produksi kedelai nasional dalam beberapa tahun terakhir, berkisar pada angka 600-700 ribu ton per tahun.

Untuk memenuhi kesenjangan antara produksi dengan kebutuhan ini, setiap tahun pemerintah mengimpor kedelai dari Amerika Serikat sekitar 1,2 juta ton. Melihat ketergantungan impor kedelai yang sangat tinggi serta hambatan laju peningkatan produktivitas menunjukkan, adanya persoalan yang menghadang di depan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, bagaimana meningkatkan kapasitas produksi kedelai nasional secara berkelanjutan dalam rangka membangun kemandirian pangan di Indonesia.

Salah Satu Upaya:
Untuk menjawab tantangan di atas, Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai, di antaranya adalah varietas unggul. Kurun waktu 1918 hingga 2008, setidaknya ada 70 varietas kedelai yang telah dilepas dan disebarkan kepada petani. Ke tujuh puluh varietas ini dihasilkan melalui beberapa cara, di antaranya melalui persilangan sebanyak 35 varietas, berasal dari introduksi 18 varietas, 11 di antaranya adalah varietas lokal, dan 6 varietas diperoleh melalui hasil radiasi.

Lain Kondisi Lahan, Lain Pula Varietasnya
Pada kondisi lahan yang berbeda, pilihan varietas pun harus disesuaikan. Berikut ini deskripsi beberapa varietas unggul kedelai yang sesuai pada beberapa kondisi lahan, yang dapat menjadi bahan pertimbangan pelaku utama dalam melakukan usahatani kedelai.

1. Lahan Sawah dan Lahan Kering
Setidaknya ada 15 varietas kedelai yang dapat ditanam pada lahan sawah dan lahan kering. Kelima belas varietas kedelai ini dilepas pada periode waktu 2001 hingga 2008. Varietas-varietas tersebut adalah: Kaba, Sinabung, Anjasmoro, Mahameru, Baluran, Merubetiri, Ijen, Panderman, Gumitir, Argopuro, Arjasari, Grobogan, Kipas Merah, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo. Umur panen semua varietas tersebut berkisar antara 73 sampai 100 hari. Berikut beberapa deskripsi varietas yang cocok untuk lahan sawah dan lahan kering.

Varietas Anjasmoro
Kedelai Varietas Anjasmoro dilepas pada 22 Oktober tahun 2001, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 537/Kpts/TP.240/10/2001. Daya hasil Varietas Anjasmoro mencapai 2,03 – 2,25 toh/ha. Ukuran biji termasuk kategori besar, berat 100 bijinya mencapai 14,8 -15,3 gram. Salah satu keunggulan variatas Anjasmoro adalah ketahanannya pada rebah, serta moderat pada penyakit karat daun. Selain itu, varietas ini memiliki sifat polong yang tidak mudah pecah.

Panderman
Varietas Panderman merupakan salah satu varietas introduksi. Adalah negara Taiwan, varietas ini berasal. Dilepas pada 3 Agustus 2003, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 395/Kpts/SR.120/8/2003. Umur polong masak varietas ini adalah 85 hari. Bentuk biji agak bulat, dengan warna kulit biji kuning muda. Bobot 100 bijinya mencapai 18-19 gram, yang berarti termasuk kategori biji besar. Potensi hasil yang dapat dicapai Varietas Panderman adalah 2,37 ton/ha, atau rata-rata hasil 2,11 ton/ha. Varietas Panderman juga memiliki ketahanan terhadap rebah, dan agak tahan terhadap serangan ulat grayak.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip