Update : Selasa, 07/09/2010
 
Mimbar Penyuluh

MENGENDALIKAN SI PENGHISAP CAIRAN BATANG PADI

Hama Wereng Batang Coklat (WBC) saat ini sedang ganas menyerang beberapa tempat di wilayah Jawa Barat khususnya, dan sebagian Jawa Timur. Wilayah Jawa Barat yang cukup parah mendapatkan serangan yaitu di Subang, Indramayu, Bekasi, Cirebon, serta Kuningan. Sedangkan di Jawa Timur yang parah mendapat serangan yaitu Jember. Hama tersebut populasinya mudah sekali meledak jika lingkungannya mendukung. 

Penyebaran hama wereng yang cukup meresahkan petani ini walau secara nasional diperkirakan tidak mempengaruhi target produksi padi tahun 2010, perlu segera diatasi, karena dikhawatirkan akan mengganggu ketahanan pangan bila tidak diantisipasi.

Salah satu faktor penyebab meluasnya hama wereng coklat adalah mulai meluasnya penanaman padi hibrida yang tidak tahap terhadap WBC. Faktor lainnya adalah siklus cuaca yang tidak menentu. Kondisi iklim ini membuat perkembangbiakan hama wereng batang coklat dapat semakin cepat. Selain itu, penggunaan pestisida oleh petani sering tidak sesuai kadar yang dianjurkan sehingga hama wereng jadi kebal.

Perkembangbiakan WBC sungguh sangat cepat. Seekor wereng coklat betina mampu bertelur sebanyak 100-600 butir, dengan masa telur lebih kurang 8 hari. Masa nimfa, sejak menetas sampai menjadi dewasa lebih kurang 18 hari. Siklus hidup wereng coklat berkisar 28 hari. Maka tidak heran kalau akibat serangan wereng, saat ini gagal panen yang dialami petani bisa mencapai 80% dari total areal yang terserang. Maka serangan WBC ini harus cepat dikendalikan, agar tidak sampai mengalami puso.

Pemerintah saat ini telah, sedang dan akan berupaya terus untuk melakukan penanggulangan hama wereng batang coklat. Rencana tindak lanjut dalam upaya pengendalian wereng batang coklat antara lain:
1. Menurunkan populasi WBC pada tingkat tidak membahayakan (di bawah ambang pengendalian);
2. Pembentukan posko-posko pengendalian WBC mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat pusat;
3. Penataan pola tanam (tanam serentak dalam satu hamparan);
4. Koordinasi dan Sinkronisasi di setiap lini;
5. Pengawalan ketat khusus bagi pertanaman yang tidak mempunyai gen ketahanan;
6. Penyediaan sarana pengendalian yang tepat.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip