Update : Selasa, 07/09/2010
 
Mimbar Penyuluh

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PALA DI INDONESIA

Pala mempunyai nilai ekonomis tinggi, biji dan fulinya merupakan bahan industri minuman, makanan, farmasi dan kosmetik, daging buahnya dapat dibuat manisan, asinan, sari buah, minuman instan, selai, dodol, anggur, asam cuka, cutney dan jeli, dan merupakan sumber pendapatan petani dan pendapatan devisa negara.

Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan komoditas penting dan potensial, hampir semua bagian buahnya dapat dijadikan bahan olahan yang mempunyai nilai ekonomis. Biji dan fulinya dapat digunakan sebagai bahan industri minuman, makanan, farmasi dan kosmetik dan merupakan bentuk komoditas pala di pasar internasional. Daging buahnya dapat dibuat berbagai macam produk pangan seperti manisan/asinan pala, sari buah, minuman instan, selai, dodol, anggur pala, asam cuka, cutney dan jeli. Pala juga merupakan sumber pendapatan petani dan pendapatan devisa negara. Kelebihan pala Indonesia adalah dikenal mengandung minyak oleoresin dibanding pala asal negara lain.

Sekalipun Indonesia merupakan negara pengekspor pala terbesar di dunia, namun mutunya masih kalah dengan mutu pala dari Grenada. Pengusahaan tanaman pala umumnya dilakukan secara monokultur sehingga potensi lahan belum dimanfaatkan secara optimal, kondisi tanaman kurang terawat, tanaman tua dan rusak. Di samping itu kelembagaan petani seperti kelompoktani, koperasi dan asosiasi belum berfungsi sebagaimana mestinya.

ARAH KEBIJAKAN DAN PENGEMBANGAN
Fokus kebijakan jangka panjang yaitu mewujudkan agribisnis pala secara efisien, holistik, terintegrasi dan berkelanjutan yang dapat memberikan tingkat kesejahteraan bagi para pelaku usahanya. Sedangkan fokus jangka menengah sampai dengan tahun 2010 adalah peningkatan produktivitas dan mutu hasil pala, pemberdayaan petani dan penguatan kelembagaan, pengolahan dan pemasaran fuli, dan dukungan penyedia pembiayaan.

LANGKAH OPERASIONAL
1. Peningkatan Produktivitas dilakukan melalui intensifikasi tanaman, rehabilitasi/peremajaan tanaman, diversifikasi usaha, pembangunan dan pengembangan sumber benih serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
2. Pemberdayaan petani dan penguatan kelembagaan dilakukan melalui penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani dan kelembagaan usaha, pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan petani serta fasilitasi lembaga keuangan pedesaan sehingga dapat terjangkau oleh petani.
3. Pengolahan dan pemasaran hasil dilakukan melalui fasilitasi sarana dan prasarana berupa alat pengolahan, peningkatan mutu hasil baik hasil utama maupun produk turunan, serta peningkatan dan pemantapan kelembagaan pemasaran.
4. Dukungan penyediaan pembiayaan dimaksudkan untuk tersediaanya berbagai kemungkinan sumber pembiayaan baik yang berasal dari lembaga perbankan maupun non bank (antara lain resi gudang, dana masyarakat dan lain-lain).

LANGKAH-LANGKAH PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PALA
Dalam rangka peningkatan produktivitas tanaman, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan usaha intensifikasi, rehabilitasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi tanaman pala adalah upaya meningkatkan produktivitas tanaman pala melalui perbaikan teknis budidaya tanpa menambah luas areal yang ada. Teknis budidaya yang diterapkan meliputi pemeliharaan secara intensif. Rehabilitasi adalah usaha budidaya untuk memulihkan keadaan tanaman pala ke arah kondisi yang lebih baik produktivitasnya. Usaha yang dapat diterapkan meliputi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan penggantian tanaman rusak, tua atau mati dengan benih unggul. Sedangkan ekstensifikasi adalah usaha meningkatkan produksi tanaman pala dengan memperluas areal pertanaman, pada areal tanam baru atau pada areal bekas lahan tanaman lain.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip