TAMBAK BAKAU MEMULIHKAN TAMBAK UDANG
Pengalihan ekstensif hutan-hutan bakau menjadi tambak air payau untuk pemeliharaan udang telah merusak ekosistem pantai di berbagai negara, terutama Asia Tenggara. Dampak negatif segera menimpa tambak-tambak udang tersebut, khususnya penyakit udang yang merajalela sehingga banyak tambak ditinggalkan petani.
Satu studi oleh Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS) bersama Seikai National Fisheries Research Institute telah berhasil merancang satu cara memulihkan tambak-tambak udang di bekas ekosistem bakau. Pola dasarnya ialah membersihkan air tambak udang dengan air tambak bakau sehingga sintasan larva udang lebih tinggi dan udang peliharaan lebih sehat.
Model pertambakan yang dicoba dalam studi ini ialah tambak udang yang berdampingan atau berdekatan dengan tambak tanaman bakau dengan ukuran yang sama, yakni 20 x 40 m. Tambak bakau letaknya di hilir dan tambak udang di hulu.
Setiap hari Kamis, sekitar 30% air tambak udang dialirkan ke tambak bakau, dan setiap hari Senin air dari tambak bakau dalam jumlah yang sama dipompakan kembali ke tambak udang. Tambak udang diisi dengan larva udang jenis Penaeus monodon dengan berbagai tingkat populasi. Sedangkan tambak bakau ditanami pohon bakau Rhizophora mucronata sebanyak 476 batang.
Hasil terbaik yang diperoleh pada panen setelah empat bulan pemeliharaan ialah pada tambak udang yang diisi 10.000 ekor larva, yakni dengan tingkat sintasan 85,3%, jumlah berat udang dipanen 124,5 kg dan rasio konversi pakan (FCR) 1,34. Pada tambak udang kontrol, angka-angka tersebut masing-masing 83,5%, 109 kg dan 1,46. Budget posfor juga lebih tinggi dibanding kontrol sehingga beban lingkungan lebih ringan.
LIMBAH PABRIK KERTAS UNTUK REKLAMASI PERTAMBANGAN
Cara reklamasi yang aman tanah di lahan pertambangan batubara permukaan bisa dilakukan dengan menggunakan limbah pabrik kertas dengan takaran tiga kali lipat dibanding takaran standar, menurut hasil penelitian para ilmuwan Badan Riset Pertanian (ARS) Amerika Serikat.
Pada percobaan pada pertambangan permukaan di lereng curam di Ohio tenggara belum lama ini, reklamasi dilakukan dengan takaran 300 ton lumpur pabrik kertas per acre (1 acre=4.000 m2). Dibandingkan dengan aplikasi takaran standard 100 ton per acre, para peneliti menemukan bahwa takaran yang lebih tinggi memberi banyak manfaat dan tidak menimbulkan efek tambahan negatif terhadap kualitas air yang merembes.
Aplikasi lumpur pabrik kertas pada kedua takaran tersebut sangat mengurangi perembesan dan erosi lahan dibanding reklamasi standar tanpa lumpur pabrik kertas, utamanya sebelum dilakukan penanaman rumput. Namun dengan takaran lebih tinggi, kehilangan tanah oleh erosi setelah penanaman rumput dan stabilisasi tanah bisa berkurang sampai delapan kali lipat.
Aplikasi takaran tinggi akan meningkatkan kandungan karbon, kalsium dan pH tanah jauh lebih bear dibanding takaran rendah. Proyek penelitian ini telah menghasilkan takaran yang tepat aplikasi lumpur pabrik kertas pada reklamasi lahan pertambangan permukaan tanpa merugikan mutu air di hilirnya.


