PETERNAKAN GANGGU NEGARA MAJU
Kegiatan dan produksi peternakan dunia yang kini mengalami peningkatan pesat menimbulkan dampak berbeda di berbagai negara. Bagi negara-negara maju menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan konsumen, sedangkan di negara-negara berkembang sebaliknya, menurut analisa sekelompok ilmuwan peneliti.
Analisa tersebut yang dilakukan oleh para peneliti Internatonal Livestock Research Institute (ILRI), FAO dan Center for Collaborative Conservation Universitas Negara Colorado menyimpulkan bahwa peningkatan konsumsi daging, susu dan telur merupakan salah satu faktor penyebab epidemi kegemukan dan penyakit jantung di negara-negara maju. Sedangkan di negara-negara berkembang, konsumsi produk-produk peternakan tersebut lebih terkait dengan perbaikan kesehatan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa di negara-negara miskin yang kebanyakan penduduknya masih tergantung pada diet pati, konsumsi sekadarnya produk-produk peternakan tersebut bisa memperbaiki nutrisi dan kesehatan serta menurunkan tingkat kematian dan memperbaiki pertumbuhan anak-anak.
Kesimpulan lain yang ditarik ialah bahwa risiko lingkungan oleh kegiatan peternakan timbul terutama sebagai dampak konsumsi berlebihan produk pangan dari peternakan di negara-negara kaya serta bertumbuhnya permintaan di ekonomi yang sedang bertumbuh pesat seperti China, Asia Tenggara dan Brasil.
GLISERIN SUMBER PAKAN BARU UNGGAS
Gliserin telah terbukti kelayakannya sebagai sumber pakan baru yang potensial bagi ternak unggas, menurut hasil riset tim ilmuwan Badan Riset Pertanian (ARS) Amerika Serikat yang dipimpin oleh Dr. William Dozier.
Gliserin merupakan hasil sampingan industri pengolahan biodiesel melalui transesterifikasi trigliserida yang terdapat pada minyak kedelai dan jagung serta lemak hewan pada pabrik pengolahan, dalam proses yang menggunakan metanol dan natrium hidroksida.
Tim peneliti tersebut melakukan percobaan untuk menentukan energy yang secara nyata dapat dipertukarkan (apparent metabolizable energy/AMEn) gliserin pada ayam pedaging (broiler) berbagai umur. Mereka menemukan bahwa kisaran AMEn gliserin dalam beberapa percobaan tersebut adalah 3.434 kcal/kg, yakni kurang lebih sama dengan kandungan energi bruto (gross energy /GE) gliserin. Ini menunjukkan bahwa AMEn gliserin termanfaatkan dengan efisien oleh ayam pedaging.
Tim peneliti menyimpulkan, gliserin digunakan oleh unggas tersebut dengan sangat efisien, karena kandungan AMEn gliserin bisa mencapai 92-95% energi brutonya. Dr. Dozier mengatakan, di tengah terus meningkatnya harga jagung karena diperlukan untuk produksi bioetanol, adanya gliserin sebagai bahan pakan alternatif akan bisa mengendalikan biaya produksi ternak unggas dan harga eceran bagi konsumen.
Sementara itu, Poultry Science Association (PSA) menyatakan penemuan tersebut menunjukkan adanya potensi penghematan biaya yang signifikan bagi peternak unggas karena akan semakin banyak jumlah gliserin yang tersedia untuk digunakan sebagai pakan selaras dengan peningkatan pesat produksi biodiesel. Di Amerika Serikat dalam 3 tahun terakhir produksi biodiesel naik dari 250 juta gallon menjadi 450 juta gallon, yang memberi tambahan 18 juta gallon gliserin dalam periode yang sama.


