Update : Senin, 26/07/2010
 
Lumbung

Pangan Non Beras Belum Swasembada

Ketahanan pangan nasional belum sepenuhnya kokoh dan kuat, ditandai oleh belum terwujudnya swasembada di luar beras (karbohidrat, protein dan komponen gizi esensial), masih tingginya impor bahan pangan di luar beras (terigu, susu, kedelai, daging) dan adanya sebagian masyarakat yang belum dapat mengakses pangan (rawan pangan 11%,) akibat keterbatasan daya beli (tingkat kemiskinan masih tinggi 14,2%).

Hal itu terungkap dalam rumusan seminar yang menghadirkan 4 (empat) pembicara, yakni : Dr. Sumaryanto (peneliti pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Departemen Pertanian) dengan pokok bahasan tentang : ”Diversifikasi sebagai Salah Satu Pilar Ketahanan Pangan” ; dari Departemen Kelautan dan Perikanan, Dr. Agus Heri Purnomo (Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan) yang menyampaikan bahasan tentang : “Pasokan dan Konsumsi Ikan bagi Masyarakat Indonesia: Saat ini dan Antisipasi ke Depan“ ; Pembicara dari Departemen Kehutanan, Dr. A. Fauzi Mas’ud (Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Ekonomi) yang memaparkan bahasan mengenai : “Pangan dari Hutan (Kontribusi Sektor Kehutanan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional) ”; serta pembicara dari Kementerian Riset dan Teknologi adalah Prof. Dr. Benyamin Lakitan (Sekretaris Menteri Ristek dan Teknologi/Ketua Komisi Pangan Dewan Riset Nasional dengan materi bahasan: “Kontribusi IPTEK untuk Mencapai Ketahanan Pangan”.

Dalam rumusan seminar tersebut dikatakan ketahanan pangan tidak hanya menyangkut kuantitas pangan dan kalori, melainkan juga mencakup kebutuhan protein dan komponen gizi esensial lainnya. Tingkat konsumsi protein hewani masyarakat masih berada di bawah angka yang ditetapkan. Sementara itu, fakta menunjukkan bahwa apabila sektor perikanan dapat merealisasikan target konsumsi ikan sebesar 40 kg/kapita/tahun maka hal itu setara dengan pemenuhan 1/3 angka kecukupan gizi (AKG) protein. Ikan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan konsumsi protein hewani secara nasional.

Selain itu, krisis global saat ini banyak menciutkan lapangan kerja. Perubahan iklim berimplikasi penurunan produksi dan kenaikan harga pangan serta semakin banyak masyarakat yang tidak dapat mengakses pangan, sehingga target pengurangan kelaparan dan kemiskinan yang ditetapkan MDG's semakin sulit diwujudkan. Pembangunan ketahanan pangan nasional juga menghadapi sejumlah tantangan dari dalam negeri, antara lain: (a) produksi pangan yang semakin sulit ditingkatkan karena makin menyusutnya lahan produktif, keterbatasan infrastruktur dan produktifitas; (b) pola konsumsi pangan yang belum bergizi seimbang dan aman serta sangat tergantung pada beras; (c) sistem distribusi dan tata niaga pangan yang belum efisien sehingga menyebabkan harga yang tinggi di tingkat konsumen.

Diversifikasi, dalam arti produksi, distribusi dan konsumsi, dapat menjadi pilar ketahanan pangan melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Dukungan teknologi, sarana dan prasarana para pihak dalam produksi dan distribusi merupakan suatu kebutuhan. Diversifikasi konsumsi merupakan tantangan yang cukup besar, karena selain menyangkut daya beli, juga pola konsumsi yang merupakan bagian dari budaya masyarakat. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intensif untuk memberi keyakinan kepada masyarakat bahwa ketahanan pangan dapat terwujud apabila didukung oleh pola konsumsi pangan yang beragam (diversified).

Peluang
Indonesia memiliki potensi dan peluang untuk meningkatkan ketahanan pangan seperti mega biodiversitas untuk meningkatkan produktifitas dan keanekaragaman pangan, lahan kering dan marjinal yang masih luas dan belum termanfaatkan untuk produksi pangan, pesisir dan pantai terpanjang di dunia yang dapat dimanfaatkan untuk produksi perikanan, pemanfaatan areal hutan untuk produksi pangan dan keragaman komoditas pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai pangan masa depan.

Sektor pertanian pangan memiliki potensi besar dalam penyediaan sumber karbohidrat dari biji-bijian dan protein dari hasil ternak. Sektor perikanan dengan sumber daya perikanan tangkap dan budidaya yang relatif besar mampu memberikan pasokan sumber protein ikan berkualitas tinggi dengan tingkat harga yang terjangkau. Sektor kehutanan di samping sebagai pendukung sektor pertanian dengan pasokan air secara berkelanjutan melalui fungsinya sebagai pengatur tata air, habitat perkembang biakan perikanan, juga secara langsung mendukung produksi pangan melalui sistem tumpang sari, serta sebagai cadangan pangan pada kondisi darurat (food reserve at the last resort).

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip