Update : Senin, 26/07/2010
 
Lumbung

MPTHI Minta Pemerintah Waspadai Munculnya Hama Baru

Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia (MPTHI) meminta agar pemerintah selalu waspada akan kemungkinan munculnya hama baru ke depan. “Sekarang kita adopsi teknologi baru termasuk hibrida, dia punya keunggulan tapi punya kelemahan, karenanya kita tidak boleh lengah dalam melakukan proteksi tanaman,” kata Ketua Umum MPTHI Sutarto Aliemoeso pada Pertemuan Nasional MPTHI ke-7 tahun 2009 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sutarto yang juga Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian mengingatkan pada era tahun 1979 sewaktu Indonesia memasalkan teknologi baru yakni Varietas Unggul muncul serangan hama wereng. “Akibat serangan hama wereng sampai 10 tahun kita sibuk mengatasinya, hingga keluar Inpres dan masuk penerimaan tenaga pengamat hama yang sekarang sudah banyak yang pensiun,” tambahnya.

Dikatakannya perubahan iklim yang saat ini tengah terjadi juga bisa menjadi persoalan kedepan. “Sehingga teknologi perlindungan harus terus dikembangkan, mungkin jenis hama dan penyakitnya sama tapi virulensinya berbeda, seperti yang terjadi negara lain. Di Korea misalnya ternyata ada hama baru yang belum ada di sini, tapi harus kita hadapi,” tambah Sutarto yang juga melakukan Tanam Perdana Padi Musim Hujan 2009/2010 Pola Tanam Sawit Dupa di Lahan Lebak di Desa Pasar Kamis Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar.

Menurutnya dalam era perdagangan bebas, Indonesia tidak mungkin menghindarinya. Melainkan harus dihadapi dengan sebaik-baiknya. “Di era itu pengenaan tarif makin tak boleh dilakukan, yang bisa kita lakukan adalah memberikan persyaratan-persyaratan untuk membatasi membanjir produk impor. Itu ada kaitannya dengan hama dan penyakit,” tuturnya.

Untuk itu lanjut Sutarto pertemuan MPTHI seperti ini penting dilakukan tiap tahun. “Paling tidak kita bisa hasilkan rumusan apa persoalan di bidang perlindungan tanaman dan hewan ini ke depan dan solusi apa yang bisa kita lakukan kedepan. Termasuk juga kendala yang dihadapi seperti keuangan, tenaga dan sebagainya sehingga solusinya betul-betul bisa dilaksanakan,” tambahnya lagi.

Saat ini lanjutnya tenaga perlindungan tanaman hanya ada sekitar 3 ribu orang. Jumlah itu sangat tidak mencukupi. Karena itu Deptan mengembangkan sistem proteksi dengan mengkader dan melibatkan petani yang mampu di bidang perlindungan tanaman dan hewan.

Ketua Pelaksana Pertemuan Nasional MPTHI ke-7 tahun 2009 Ati Wasiati mengatakan tema pertemuan kali ini adalah "MPTHI mendorong kemandirian petani dan peningkatan ekspor produk pertanian.” Dikatakannya perlindungan tanaman dan hewan masih jadi masalah, karena itu pemerintah terus memberikan perhatian dan menanggulangi di antaranya dengan mengadakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT),” tambahnya.

Pertemuan ini lanjut Sutarto sangat strategis. Di mana dilakukan pada saat generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi pertanian tidak banyak yang memilih jurusan hama dan penyakit. “Karena itu kita harus mensosialisasikan perlindungan tanaman dan hewan, siapa yang akan yang menangani?,” tambahnya lagi.

Arsip