TERINSPIRASI DARI LEMBAH HIJAU KINI MENJADI PAKAR SAPI
Ramang, Ketua Kelompok Tani ”Alam Indah” Rajang
Bukit Buttu yang terletak di Desa Rajang salah satu kawasan perbukitan di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, Sulsel, merupakan daerah potensial untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. Selama ini kawasan yang luasnya sekitar 50 hektar ditumbuhi berbagai jenis tanaman dataran tinggi, dan padang rumput yang terletak di sekitar tanaman hutan menjadi lokasi mencari makan bagi ratusan ekor ternak sapi.
Sejak lima tahun silam di kawasan perbukitan itu tumbuh Kelompok Tani ”Alam Indah” yang dirintis oleh Ramang, awalnya berbasis pada usaha peternakan sapi Bali. Melihat potensi sumberdaya alam yang menggiurkan ini maka lambat laun kawasan itu disulap menjadi pertanian terpadu. "Berkat bimbingan PPL Hj. Hanifah, Baro, Muslimin Tamrin dan Koordinator Fungsional BP4K Ir. Yusuf Saman kelompok ini mulai berkembang," ungkap Ramang kepada Sinar Tani di Rajang, belum lama ini.
Kelompok Tani ”Alam Indah” memiliki jumlah anggota 25 orang dengan luas areal 50 hektar. Ramang secara pribadi memiliki jumlah populasi ternak sapi mencapai ratusan ekor. Luas lahan miliknya ada 5 hektar terdiri dari 70 are berupa sawah tadah hujan, 25 are kolam ikan dan selebihnya merupakan tanah kering. Lahan 5 hektar ini dijadikan percontohan kegiatan usahatani terpadu.
Dari Bus ke Ternak Sapi
Sebelum terjun ke usaha pertanian bapak dari enam anak ini bergerak pada usaha angkutan umum selama empat tahun. Ketika itu Ramang memiliki delapan unit armada bus angkutan umum rute Pinrang-Makasar. Usaha tersebut berhenti di tengah jalan dengan alasan beresiko tinggi. "Kadang tengah malam susah tidur memikirkan keselamatan bus sebelum tiba semua di rumah," kenang Allu sapaan akrab Ramang.
Agar tidak selalu menjadi beban pikiran maka ke delapan bus itu dijual dan dijadikan modal untuk bergerak pada usaha peternakan sapi. Awal 2005, Allu membeli lima ekor sapi Bali dari Kabupaten Bone. Setiap tahun jumlah induk sapi terus ditambah dan berkembang biak. Selain beternak sapi potong juga melakukan penangkaran bakal calon induk untuk memenuhi permintaan anggota kelompok dan peternak di luar kelompok. Pada hari raya Qurban tahun lalu terjual 50 ekor sapi umur 3-5 tahun berat daging berkisar 120-140 kg dengan harga Rp. 9,5-12 juta/ekor. Hingga kini jumlah populasi sapinya tercatat 80 ekor.
Pakar Sapi
Ramang yang hanya lulusan SD ini tiba-tiba diberi gelar pakar sapi oleh anggota kelompok dan dari peternak sapi di desa tetangga. Karena ketekunan untuk belajar dari setiap persoalan yang muncul selama lima tahun beternak sapi membuatnya makin terampil. "Jika ada anggota kesulitan menangani ternak sapi dia langsung panggil saya periksakan sapinya dan saya suntik jika diperlukan," kata Allu.
Bukan hanya spesialis mengobati penyakit sapi, tapi papa Heni ini terampil dalam memilih calon induk sapi yang baik. Demikian juga penanganan kelahiran sapi hingga penyediaan pakannya juga sudah dikuasainya. "Saya juga terus belajar dan konsultasi dengan ahlinya agar pengalaman dan pendapat para ahli dapat kami kawinkan," ungkap Ramang alias papa Heni.
Usahatani Terpadu
Untuk memberi motivasi kepada anggota kelompok maka di atas lahan 5 hektar milik Ramang dikembangkan beberapa komoditi seperti ternak sapi, kacang tanah tumpangsari dengan jagung, bawang merah, kolam ikan, tanaman padi, mangga, rambutan, kelapa dan durian.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


