Update : Senin, 26/07/2010
 
Kontak Tani

KREDIT KUPS UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI

Kusnan, Petani Ternak dari Pasuruan
Dalam kunjungan kerja ke Jawa Timur, Menteri Pertanian Suswono menyaksikan launching penyerahan kredit KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi) dan KPPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) di Malang, baru-baru ini. Acara tersebut diawali dengan penandatanganan akad kredit KUPS antara pelaku usaha pembibitan sapi dengan bank pelaksana, yang terdiri 2 kelompok peternak dan 5 koperasi dengan rincian 2 kelompok dan 4 koperasi dengan Bank Jatim dengan nilai Rp. 25 miliar, 1 koperasi dengan Bank DI Yogyakarta senilai Rp. 1,5 miliar serta 1 perusahaan dan 1 kelompok dengan BRI dengan nilai Rp. 66,4 miliar.

Salah satu koperasi yang memperoleh kredit KUPS adalah Koperasi Peternakan Sapi Perah ”Nongko Jajar”, Kabupaten Pasuruan. Kredit tersebut bernilai Rp. 16 miliar dari Bank Jatim. Kredit tersebut akan dimanfaatkan untuk membeli bibit sapi perah FH impor dari Australia sesuai dengan RDKK sebanyak 200 peternak akan memperoleh sapi yang seluruhnya sebanyak 700 ekor sapi perah dan pada akhir Maret 2010 akan datang.

Tingkatkan Kesejahteraan
”Dengan adanya kredit KUPS dapat meningkatkan produksi susu, dan populasi ternak dan yang terpenting adalah meningkatkan kesejahteraan petani”, kata Kusnan, Ketua Koperasi Peternak Sapi Perah ”Setia Kawan”, kepada Sinar Tani di sela-sela upacara penandatanganan launching kredit KUPS di BIB Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur baru-baru ini.

Menurut Kusnan (63 tahun) yang dikaruniai 4 orang anak dan sudah menggondol sarjana (S1) dan 1 orang isteri. Dengan adanya KUPS juga untuk mendukung swasembada daging 2014. Peningkatan produksi susu dari impor sapi bibit sapi perah sekaligus untuk mencerdaskan generasi muda untuk minum susu, sedangkan kotorannya dimanfaatkan untuk pupuk organik dan biogas.

”Di Nongkojajar para petani sudah memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pemakaian listrik dari energi PLN”, ujar Kusnan lebih lanjut. Di samping itu petani juga memanfaatkan pupuk organik untuk usaha pertanian hortikultura, di antaranya apel, sayuran dan buah-buahan. Dengan memanfaatkan pupuk organik, penggunaan pupuk non organik oleh petani semakin berkurang.

Koperasi yang Pinjam
Untuk memperoleh kredit KUPS para peternak akan menghadapi kesulitan, sebab pihak perbankan akan menanyakan agunan yang berupaya. Oleh karena itu di Nongkojajar yang melakukan pinjaman adalah koperasi sendiri, karena yang menjadi jaminan adalah aset milik koperasi setiap hari koperasi menjual susu sekitar 65-75 hari yang dijual ke Nestle dan Pusat Industri Susu.

”Kini koperasi memiliki aset yang cukup banyak, yakni tiga kali lipat dari kredit yang dipinjamkan”, kata Kusnan, yang juga penasehat HKTI Jatim mengemukakan dengan bangga. KPSP Setia Kawan telah memiliki sertifikat tanah, 1.553 ekor sapi dengan omzet penjualan susu sekitar Rp. 108 miliar, dan pada tahun 2009 memperoleh SHU sekitar Rp. 1,9 miliar.

Sebagai petani, Kusnan di usia yang sudah tidak muda lagi ingin tetap membantu petani agar kesejahteraannya meningkat. Oleh karena itu KUPS merupakan upaya meningkatkan jumlah sapi yang dimiliki, di samping meningkatkan kegiatan koperasi secara rutin, yakni simpan pinjam, perdagangan/jasa, sarana produksi pertanian, pembuatan pupuk organik, penggemukan ternak potong, paprica dan lain-lain. ”Untuk mensejahterakan petani, yakni cukup membiayai kehidupan sehari-hari, sapi perah yang dipelihara sekitar 7-8 ekor”, kata Kusnan yang tampak low profil.

Arsip