TRAGEDI NASI AKING DAN BANK CENTURY
Ketika para anggota DPR sedang berdebat, berdiskusi dan beradu argumentasi dengan para pejabat pemerintah dan ahli ekonomi untuk mengungkap skandal Bank Century, di sebuah desa di Kabupaten Jombang, Jatim, 120 kepala keluarga setiap hari selama beberapa minggu sedang berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuap nasi. Ratusan orang itu setiap hari harus berjuang keras untuk bisa mendapat makanan pengganjal perut. Karena tidak ada lagi yang bisa dimakan maka mereka setiap hari terpaksa makan nasi aking, yaitu sisa nasi basi yang dikeringkan kemudian ditanak lagi.
Tragisnya, untuk bisa mendapatkan nasi aking juga bukan perkara mudah. Naiknya harga beras dalam beberapa minggu terakhir membuat mereka kesulitan mendapatkan nasi sisa. Karena mahalnya harga beras jumlah sisa nasi yang bisa dikumpulkan juga sangat terbatas. Entah apa yang akan mereka makan beberapa hari ke depan. Isu tentang datangnya beras bantuan dari pemerintah atau beras untuk rakyat miskin (raskin) yang sejak lama telah ditunggu-tunggu ternyata benar-benar hanya isu, meskipun katanya pemerintah telah menyiapkan jatah bantuan beras dalam jumlah melimpah.
Kasus beras aking dan sulitnya mendapatkan makanan tentu tidak hanya terjadi di Jombang. Bisa dipastikan kasus serupa banyak terjadi di berbagai daerah, terutama di daerah-daerah miskin dan terbatas sumberdaya ekonominya. Meskipun belum sampai masuk dalam status kelaparan namun kondisi ini bisa menjadi cermin betapa rakyat kecil masih banyak yang kesulitan mendapat makan. Kondisi ini bisa semakin meluas bila harga beras cenderung terus naik sebagaimana diprediksi FAO. Mahalnya harga beras dunia, yang tentunya juga akan diikuti dengan naiknya harga beras di pasar domestik akan memaksa semakin banyak orang makan nasi aking.
Oleh karena itu, kita patut prihatin mengelus dada menyaksikan pentas drama pengusutan skandal Bank Century. Seluruh energi bangsa rasanya tercurah dan terkuras hanya untuk mengurungi skandal yang melibatkan beberapa orang, sementara ribuan bahkan mungkin jutaan orang sedang kebingungan mencari makan. Setiap hari kita disuguhi pentas para politisi yang ‘seolah-olah’ berjuang untuk menegakkan kebenaran hukum, sementara jutaan rakyat sedang merasa ‘terhukum’ dengan kemiskinan dan kesulitan mendapat makan.
Sudahlah segera selesaikan dan tuntaskan semua permasalahan yang tidak terkait langsung dengan kepentingan rakyat. Segera hukum dengan hukuman yang berat bagi mereka yang terlibat lalu segera urusi rakyat. Jangan biarkan rakyat terlalu lama miskin dan lapar, dan hanya disuguhi debat para politisi dan pejabat yang sama sekali tidak mereka mengerti.


