Update : Kamis, 11/03/2010
 
Kolom

PRODUK UNGGULAN LOKAL

Seorang pengusaha pemasok produk makanan untuk kapal pesiar asing kebingungan mencari berbagai produk eksotik khas Indonesia. Dia sudah keluar masuk pasar untuk mencari buah sawo yang ukurannya seragam, manis dan bersih namun tidak bisa juga menemukan. Dia juga mencari pisang ‘gendruwo’, jenis pisang berwarna merah tua, ternyata juga tidak ada. Dia juga kebingungan mencari buah srikaya matang dan siap makan. Bahkan dia juga terpaksa menolak permintaan untuk memasok secara rutin ikan gurame segar ukuran minimal 1,3 kg per ekor, karena memang sulit mencari ikan ukuran itu dalam jumlah besar.

Kita tentu tidak mengira bahwa potensi berbagai produk pertanian spesifik dan eksotik ternyata cukup besar. Banyak permintaan jenis produk tertentu yang tidak bisa dipenuhi karena memang sudah tidak ada lagi petani atau pengusaha yang membudidayakan. Padahal kalau ada yang memberi perhatian khusus bukan tidak mungkin potensi produk spesifik ini bisa berkembang menjadi produk yang memiliki prospek bisnis menguntungkan.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat perhatian terhadap berbagai produk spesifik lokal mungkin perlu digiatkan kembali. Kita bisa berlajar dari pengalaman ‘hilangnya’ potensi varietas-varietas padi lokal yang sebenarnya bisa menjadi produk eksotik dan memiliki segmen pasar khusus, seperti padi Pandan Wangi, Rojolele dan berbagai jenis padi lainnya. Jenis padi dengan karakter fisik dan aroma khusus, meskipun pasarnya cenderung sempit namun bisa memberi keuntungan berlipat pada para petani dan pengusaha pengelolanya.

Langkah awal yang bisa dilakukan untuk mulai menggarap berbagai produk spesifik lokal adalah dengan menggali potensi produk di masing-masing daerah. Setiap daerah seharusnya memiliki produk unggulan yang bisa dikembangkan dengan serius dan sungguh-sungguh agar bisa menjadi produk kebanggaan daerah. Produk ini harus diproteksi dan dilindungi agar benar-benar mampu berkembang dengan tetap mempertahankan karakter spesifiknya. Jangan sampai terjadi produk spesifik lokal kemudian tidak terjaga karena sama sekali tidak mendapat perlindungan. Kasus Salak Pondoh di Sleman, Yogyakarta mungkin bisa menjadi pelajaran. Karena percampuran varietas dan pengembangan bibit yang ‘asal-asalan’ sekarang konsumen sulit mendapat salak Pondoh yang asli. Semua salak dari Yogyakarta diakui sebagai salak Pondoh.

Mari kita menggali berbagai produk unggulan lokal untuk bisa menjadi kekuatan bisnis baru di sektor pertanian. Mengapa Durian Bangkok bisa berkembang luas, kita tidak bisa mengembangkan Durian Petruk?

Arsip