Update : Kamis, 11/03/2010
 
Kolom

Pak Tani dan Pak Haji

Senyumnya lepas. Dari wajahnya terlihat tidak ada beban. Usai panen kopi Arabica, Pak Basri petani kopi di Aceh memperoleh uang Rp 40 juta, semuanya ia bayarkan untuk berangkat haji ke Mekkah tahun ini. "Alhamdulillah, aku bisa memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Labaik Allahumma Labaika," ucap Pak Basri.

Para petani tembakau virginia di Lombok NTB tak kalah girangnya. Pasalnya, hasil panennya juga bisa untuk berangkat haji. Juga petani bawang di Bima, NTB. Dari 4.500 jamaah haji NTB/ tahunnya mayoritas adalah petani. Di Temanggung, Jawa Tengah, 60 persen jamaah haji adalah petani.

Pada daerah yang usaha taninya sawah padi pun ditemukan banyak petani yang berangkat haji. Di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), para petani disebut bukan orang yang kaya. Namun jumlah mereka mendominasi jamaah haji di sana. Kok bisa? Di antaranya mereka banyak yang menjual sawahnya. "Kalau tidak menjual sawah, bagaimana kita bisa naik haji," kata salah satu di antara mereka.

Bismillah, saya jual sawah ini untuk memenuhi panggilan haji-Mu ya Allah. "Masih ada sepetak sawah untuk bertani sepulang Haji," kata Pak Thoha. Ia yakin di baitullah sana akan mampu menyempurnakan Imannya kepada Allah.

Soal Rizqi, Allah yang mengatur. Kita hanya diwajibkan usaha. Yang ia tahu banyak cerita dari yang sudah pernah berangkat haji, selalu ingin naik haji kembali bila ada biaya dan kesempatan. Ada sebuah rahasia hidup di sana yang tidak bisa diceritakan, kecuali berangkat haji sendiri. Sebab itulah Pak Thoha rela menjual sebagian sawahnya.

Ada banyak hikmah dari perilaku petani sawah itu. Satu di antarnya adalah ada kesempatan untuk mengonsolidasi pemilikan sawah. Yakni agar jumlah penguasaan/ pemilikan sawah padi meningkat dan jumlah petaninya berkurang.
Hal itu bisa direalisasikan di antaranya bila pemerintah memfasilitasi. Misalnya, pemerintah membeli sawah petani yang mau berangkat haji dan sawah itu dikreditkan pada petani sekitar yang ingin menambah luas kepemilikannya.

Arsip