NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING
Waktu berjalan seolah menjadi terlalu cepat ketika kita berbincang dengan Dr. Asep Dedy Sutrisno, sosok ahli industri pangan dari Universitas Pasundan, Bandung. Keahlian dan kompetensinya yang mumpuni di bidang industri dan teknologi pangan membuat siapapun peminat industri pangan juga petani dan peternak akan ketagihan untuk menguras ilmunya.
Pengalaman dan wawasannya yang luas tentang praktek bisnis dari skala kecil hingga besar, membuat para pelaku industri pangan tidak akan pernah habis memperoleh refensi tentang pengembangan bisnis pangan.
Salah satu yang menarik dari sosok santun ini adalah komitmennya untuk menyebarluaskan pemahaman tentang nilai tambah dan daya saing pada industri pangan, terutama pada industri pangan skala kecil.
Dalam setiap kesempatan selalu dijelaskan tentang pentingnya kedua hal tersebut. Petani, peternak dan pengelola industri pangan skala kecil akan menjadi kekuatan ekonomi yang mensejahterakan bila mampu memberi nilai tambah pada produk yang dikelolanya. Mereka akan menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan kuat bila mampu mendongkrak daya saing usahanya.
Contoh sederhana bisa dilihat pada para petani apel di Malang, Jawa Timur. Seandainya para petani tidak langsung menjual semua hasil panen apelnya dengan mengolah sebagian apelnya menjadi selai, manisan, sirup dan berbagai produk lain maka mereka akan memperoleh nilai tambah yang luar biasa dari aktifitas usaha taninya. Hal serupa bisa dilakukan para petani kelapa. Mereka bisa mengolah seluruh potensi yang ada dalam daging buah, tempurung, sabut, batang, nira dan bagian lainnya.
Pengalaman selama ini menunjukkan, para pengelola industri pangan justru memperoleh keuntungan lebih besar dibanding para petani. Sangat disayangkan bila keuntungan besar itu lepas dari tangan petani yang telah berjuang keras untuk menanam dan memelihara tanamannya dan jatuh ke pihak lain.
Hilangnya potensi nilai tambah juga banyak terjadi pada pengelolaan peternakan rakyat. Dari ujung rantai proses pemeliharaan hingga pasca panen, para peternak belum optimal mengelola potensi nilai tambah dari usaha peternakannya. Para peternak selama ini masih bergantung pada pakan hijauan yang pasokannya terbatas. Padahal potensi bahan pakan dari jerami, sampah, limbah industri pangan dan berbagai potensi lain masih sangat besar.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


