Update : Senin, 26/07/2010
 
Kolom

Jebakan Birokrasi

Dengan tidak sengaja saya bertemu dan berdialog hangat dengan seorang Kepala Dinas Peternakan sebuah kabupaten di Jawa Timur. Dalam dialog panjang yang juga dihadiri seorang peternak berpengalaman dan doktor peternakan sebuah universitas terkemuka di Subabaya, terungkap betapa susah dan sulitnya menjadi seorang kepala dinas sebuah institusi publik yang harus melayani sekaligus memberdayakan masyarakat. Di satu sisi ada kewajiban untuk berperan besar dalam proses pemberdayaan masyarakat, namun di sisi lain ada jebakan-jebakan birokrasi yang bisa menjerumuskan ke penjara karena tuduhan kesalahan penggunaan keuangan negara.

Dengan suara berat sosok kepala dinas yang masih berusia muda ini berkata, “Dinas yang saya pimpin ini tidak bisa berperan optimal karena ada jebakan rambu-rambu administrasi keuangan yang sangat ketat. Alokasi dana yang tersedia sering tidak bisa terserap habis karena ada beberapa pos yang sulit untuk dipertanggungjawabkan administrasi keuangannya. Kita jadi sering pusing bukan karena urusan pekerjaan pengembangan peternakan tetapi justru karena urusan administrasi keuangan. Kita tidak mau dituduh korupsi hanya karena salah pengelolaan administrasi.” ujarnya.

Keluhannya memang berderet panjang tapi intinya ada penyakit kronis yang menempel di jajaran birokrasi kita. Keinginan untuk memberantas dan mencegah tindak korupsi telah melahirkan sistem birokrasi ketat yang mengekang kreatifitas dan mematikan potensi para birokrat. Berbagai ketentuan tehnis administratif yang dimaksudkan untuk menutup peluang tindak korupsi justru telah berubah menjadi monster menakutkan bagi para birokrat. Mereka tidak mau lagi berkreasi dan cenderung pasif dalam mempergunakan dana pemerintah hanya untuk menghindari resiko tuduhan korupsi.

Kita tentu prihatin melihat fakta ini. Ternyata semangat besar untuk memberantas korupsi telah melahirkan birokrat pasif, penakut dan tidak berani mengambil resiko. Komitmen bersama untuk menghancurkan korupsi ternyata secara langsung juga menghancurkan semangat kerja para birokrat. Sayangnya fakta ini jarang diungkap karena yang lebih banyak muncul ke permukaan adalah penangkapan dan penjeblosan para tersangka korupsi ke penjara. Keluhan dan jeritan hati para birokrat yang mencoba jujur di tengah himpitan aturan tim auditor tidak pernah diungkapkan.

Kita berharap pemerintah terutama pejabat di pusat kekuasaan juga obyektif melihat fakta ini. Jangan sampai terjadi keinginan untuk memberantas korupsi justru memanen hasil negatif berupa matinya semangat dan kreatifitas para birokrat. Kita sepakat korupsi harus diberantas tuntas namun semangat para pelayan rakyat juga harus tetap tinggi dan tidak mati.

Arsip