Update : Kamis, 11/03/2010
 
Kolom

DRAMA KERBAU DAN SAPI

Tiba-tiba kerbau dan sapi menjadi binatang paling terkenal di negeri ini. Kerbau, binatang hitam, gemuk dan suka berkubang di sawah seketika menjadi aktor politik yang banyak diperbincangkan orang. 

Pentasnya dalam demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta belum lama ini telah melambungkan namanya di panggung politik nasional. Namanya menjadi pembahasan khusus dalam rapat kerja Presiden SBY dengan para menteri dan gubernur di Istana Cipanas. Dengan nada tinggi Presiden SBY mengomentari keterlibatannya dalam demonstrasi di Bundaran HI sebagai hal yang tidak pantas dilakukan. Sementara para pengamat politik justru membela sang kerbau karena telah bermain cantik mengekspresikan suara rakyat.

Peran berbeda dimainkan oleh sapi. Tiba-tiba saja namanya mencuat karena dikaitkan dengan tuduhan korupsi oleh mantan menteri sosial. Menteri yang membawahi departemen yang mengurusi kegiatan sosial dan orang-orang ‘susah’ itu telah dituduh mengkorupsi uang pembelian sapi impor. Ratusan ekor sapi impor dibeli melalui penunjukan langsung, yang berpotensi merugikan negara miliaran rupiah.

Lucunya, karena sang mantan menteri sosial adalah juga ketua partai politik maka anggota partainya langsung bereaksi keras. Mereka berteriak ada unsur politik di balik pengungkapan skandal korupsi itu.

Sungguh luar biasa, kedua binatang itu telah menjadi simbol politik yang mencerminkan kondisi sesungguhnya dari bangsa ini. Kerbau telah berubah wujud menjadi simbol tuntutan rakyat agar pemerintah lebih cepat menuntaskan berbagai persoalan pelik bangsa ini.

Kerbau menjadi representasi lambatnya pemerintah dalam memenuhi tuntutan rakyat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Sementara sapi yang menjadi obyek sangkaan korupsi bisa menjadi simbol betapa para koruptor masih kuat mencengkeram di negeri ini. Sapi untuk kegiatan sosial saja bisa dikorupsi apalagi berbagai barang lain di berbagai kementerian lain.

Seharusnya pemerintah lebih bijak dan jernih menangkap ekspresi rakyat yang disimbolkan kerbau dan kasus korupsi sapi. Presiden tidak perlu reaktif menyikapi masalah kerbau dengan menyampaikan keluhannya di depan publik.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip