Update : Senin, 01/03/2010
 
Kolom

Capres dan Mie Instan

Debat calon presiden putaran kedua berlangsung lebih hidup dan dinamis dibandingkan debat putaran pertama. Ketiga capres lebih berani berbeda pendapat dan saling mengajukan argumen kritis terhadap pertanyaan yang disampaikan moderator. Yang menarik, mereka juga saling lempar ‘ejekan’ dan sindiran. Salah satunya adalah ketika Jusuf Kalla menyindir iklan SBY yang mempergunakan lagu iklan produk mie instan. 

Menurutnya itu akan membuat konsumsi mie instan melonjak, yang berarti akan meningkatkan impor tepung terigu. SBY menjawab sindiran itu dengan mengatakan bahwa mie instan yang dikonsumsi masyarakat sudah dicoba dicampur dengan bahan-bahan lokal, seperti singkong. Sayangnya Megawati tidak terlibat dalam saling sindir ini.

Keduanya tentu sama benarnya. JK yang selama ini dikenal konsisten mengangkat potensi produk lokal tentu benar ketika menyidir impor terigu yang berlebihan.

Masyarakat Indonesia yang hidup di wilayah tropis dan sudah berabad-abad makan beras, singkong, jagung, sagu dan sumber karbohidrat lain, secara sistematis telah dibiasakan makan roti berbahan baku terigu yang diimpor dari negara sub tropis. Kesalahan fatal pemerintahan masa lalu sudah sepantasnya dikoreksi dengan melakukan pembatasan jumlah impor tepung terigu. JK dengan slogan ‘lebih cepat, lebih baik’ tentunya ingin mengambil langkah cepat untuk membatasi impor terigu.

Sementara jawaban SBY juga sangat benar bahkan sangat rasional. Tidak mungkin menghapus kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa makan roti dalam waktu sekejab. Dibutuhkan langkah-langkah bertahap dan sistematis dengan mengurangi proporsi penggunaan tepung terigu pada produk-produk berbahan baku utama terigu.

Penggunaan berbagai bahan pangan spesifik lokal dalam pola konsumsi masyarakat secara perlahan akan mampu mengurangi impor tepung terigu. Sesuai dengan gaya kepemimpinannya yang cenderung hati-hati dan tidak tergesa-gesa pilihan langkah yang ditempuh memang tepat.

Terlepas dari dua pendekatan yang berbeda itu, kita tentu sangat senang karena kedua capres tampaknya sangat memahami kondisi kritis impor tepung terigu. Ketergantungan terhadap tepung terigu sudah sangat berlebihan sehingga menguras devisa sangat besar.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip