Update : Senin, 01/03/2010
 
Kolom

Berkaca pada Negeri Tandus

Bersyukurlah kita di bumi pertiwi memiliki tanah subur, air melimpah dan tanaman hijau di sepanjang bentang tanah air. Setiap jengkal tanah menjadi lahan subur tumbuhnya tanaman hijau yang menghidupi dan mensejahterakan. Di sela rimbunnya tanaman juga hidup berbagai ternak dan binatang yang tidak saja menyemarakkan tapi juga menambah sehat dan sejahtera. Sementara air melimpah ruah hampir tak terbatas yang menjadi sumber kehidupan seluruh rakyat.

Sementara ribuan kilometer dari tanah air di sepanjang mata memandang hanya tanah tandus, gunung batu dan padang pasir menghampar. Di sini, di kota suci Mekkah yang terlihat hanya batu cadas dan padang tandus. Di kota yang sangat disucikan umat Islam, yang tampak hanyalah gunung batu tanpa pohon sama sekali. Sesekali memang turun hujan tetapi air langsung meluncur menggenangi kota tidak ada yang menahan di puncak dan punggung gunung. Air menjadi barang mahal semahal emas.

Namun Tuhan sungguh Maha Kaya dan Adil. Di negeri tandus ini rejeki demikian melimpah. Buah, sayuran dan ternak seolah ditebarkan dengan berlebihan. Rasanya tidak pernah ada kesulitan untuk mendapatkan segarnya apel, pisang, dan jeruk. Sangat mudah menikmati lezatnya sayur bayam, sawi, kol, dan pedasnya cabe. Di sepanjang jalan juga bisa didapat aneka makanan yang mengenyangkan dan menyehatkan.

Yang menarik, di berbagai sudut kota juga ditemui taman-taman kota yang hijau dan indah. Sepanjang jalan ditanami pohon-pohon hijau yang membuat kota kering ini sedikit lebih hijau. Bahkan menjelang musim haji pemerintah kota Mekkah dengan sengaja menyambut jamaah haji dengan tanaman bunga-bunga indah di beberapa taman kota. Dan di kota tandus ini menanam pohon tentu bukan perkara mudah dan murah. Dibutuhkan jutaan rial (mata uang Saudi) untuk membuat kota ini sedikit hijau. Di tiap batang tanaman ditanam juga pipa untuk menyiram air. Sungguh tanaman menjadi barang luar biasa mahal.

Oleh karena itu sungguh harus kita syukuri hidup di tanah yang murah air, kaya lahan subur, dan cuaca yang ramah. Jutaan batang tanaman hidup dengan sendirinya di tanah-tanah subur yang kaya unsur hara. Seharusnya kita berkaca pada padang tandus dan gunung batu di tanah suci ini. Ungkapan syukur itu seharusnya kita wujudkan dengan komitmen untuk mengoptimalkan sumberdaya alam yang melimpah ruah. Satu batang tanaman harusnya dinilai seperti menghargai tanaman di negeri tandus ini.

Kalau saja kita penghargaan kita pada karunia Tuhan berkaca pada negeri tandus ini, maka jutaan hektar hutan tidak akan kita babat seperti selama ini terjadi. Setiap batang tanaman akan kita cintai karena sesungguhnya itu adalah karunia Tuhan yang sangat mahal. Setiap tetes air akan kita hargai karena itu sesungguhnya nikmat yang sangat berharga. (Catatan dari Mekkah).

Arsip