SINERGISME LEMBAGA PENELITIAN PUBLIK DAN SWASTA MENDORONG PERKEMBANGAN PERKEBUNAN
Oleh : Muhammad Syakir - Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Penelitian dan pengembangan pertanian di negara-negara yang berbasis sumberdaya pertanian, sebagian besar, didanai oleh pemerintahnya. Namun akhir-akhir ini dana publik untuk kegiatan penelitian pertanian, tingkat pertumbuhannya melambat secara dramatis, bahkan di negara-negara Sub-Sahara Afrika menurun (Pardey dan Beintema 2001). Hal ini tentunya akan mengancam program penelitian untuk membantu petani kecil.
Salah satu cara untuk memastikan program penelitian tersebut dapat terus dijalankan bahkan diperkuat adalah melalui kerja sama penelitian antara lembaga penelitian publik dan swasta. Kerjasama ini sangat strategis dilakukan karena disaat tingkat pertumbuhan dana publik untuk kegiatan penelitian pertanian melambat, investasi sektor swasta untuk penelitian pertanian justru meningkat. Pada kerjasama ini pemerintah dan swasta berkontribusi dalam perencanaan, sumber daya, dan pelaksanaan penelitian.
Sub sektor perkebunan yang mempunyai peran sangat strategis dalam penyerapan 17 juta tenaga kerja dan penghasil US$ 23.091 juta devisa negara pada tahun 2008, tentunya memerlukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menciptakan berbagai inovasi unggul, baik yang terkait dengan usaha hulu maupun hilir. Untuk itu Kerjasama penelitian antara lembaga penelitian publik dengan swasta di sub sektor perkebunan akan banyak memberikan manfaat.
Penelitian
Selama tiga dekade, areal tanam perkebunan rakyat untuk komoditas perkebunan utama seperti karet, kopi, tebu, kakao dan kelapa sawit meningkat pesat. Bahkan saat ini areal perkebunan rakyat untuk komoditas tersebut sudah menjadi dominan. Areal perkebunan rakyat untuk karet sekitar 85%, kopi 96%, tabu 60,9%, kakao 92,7% dan kelapa sawit 41,8%.
Dengan dominannya perkebunan rakyat maka pada kasus dimana inovasi yang diciptakan dapat mempengaruhi kesejahteraan orang banyak, akan sangat bijak seandainya kegiatan penelitian dan pengembangannya dilakukan oleh pemerintah dan diperlakukan sebagai barang publik yang dapat diakses dan digandakan oleh banyak pihak. Menyerahkan penciptaan inovasi yang bermanfaat untuk rakyat banyak ke pihak swasta sepenuhnya dapat membahayakan tingkat produksi komoditas perkebunan. Pihak swasta dengan perilaku monopolinya akan dapat mengatur suplai dan harga bibit sesuai dengan tingkat keuntungan yang akan mereka capai. Jika hal ini terjadi maka petani yang dapat mengakses inovasi menjadi terbatas, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat produksi dan daya saing komoditas perkebunan nasional.
Di lingkup Badan Litbang Pertanian, penyempurnaan pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa komoditas perkebunan sudah dilaksanakan sejak 2008, dalam bentuk konsorsium penelitian yang melibatkan Badan Litbang Pertanian, lembaga penelitian nasional lain, Perguruan Tinggi, dan lembaga penelitian swasta. Sebagai kegiatan rintisan, kegiatan penelitian model konsorsium ini tentu masih perlu ditingkatkan, seperti: a. kurangnya persiapan, sehingga masing-masing pihak yang terlibat belum menyiapkan dengan baik, hasil dan potensi penelitian yang telah dimiliki selama ini; b. topik penelitian, walaupun dapat ditentukan, namun belum dirumuskan dengan baik, khususnya pertimbangan untuk lebih berpihak kepada petani kebun rakyat; dan c. alokasi anggaran sebagian besar masih berasal dari Badan Litbang Pertanian, sehingga menghadapi resiko fluktuasi ketersediaan anggaran seandainya kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat multi years.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


