KLON LOKAL KAKAO ASAL BANTAENG TAHAN VSD
Salah satu permasalahan yang dihadapi petani kakao di Sulawesi Selatan di antaranya adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau biasa juga disebut hama, penyakit dan gulma yang menyebabkan rendahnya produktivitas, rata-rata hanya : 597,92 kg/ha. Sedangkan potensi optimal tanaman kakao dapat mencapai lebih dari 2 ton /ha/tahun.
Untuk mengatasi serangan OPT di masa yang akan datang diharapkan adanya klon-klon kakao yang tahan terhadap OPT tertentu. Untuk itu kelompok fungsional Disbun Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan kegiatan kajian klon-klon lokal tahan OPT yang dalam hal ini klon lokal kakao yang diduga tahan penyakit Vascular Streak Diabeck (VSD) di tiga (3) kabupaten yaitu Kabupaten Lutra, Soppeng dan Pinrang.
PENGENALAN PENYAKIT VSD (VASCULAR STREAK DIABECK)
Pengenalan penyakit VSD menurut Puslitkoka Jember tahun 2008 yaitu tanaman yang
terserang O. Theobramae menunjukkan gejala meranting. Gejala khusus lainnya adalah adanya daun-daun menguning dengan bercak–bercak berwarna hijau biasanya daun tersebut terletak pada seri daun kedua atau ketiga dari titik tumbuh.
Daun-daun yang menguning akhirnya gugur sehingga tampak gejala ranting ompong. Pada bekas duduk daun bila disayat terlihat tiga buah noktah berwarna coklat kehitam-hitaman. Bila ranting dibelah membujur terlihat garis-garis coklat pada jaringan xilem yang bermuara pada bekas duduk daun. Lentisel diranting sakit membesar dan dan relatif kasar.
Kadang-kadang dijumpai daun menunjukkan gejala nekrose diantara tulang daun seperti gejala kekurangan unsur calsium. Apabila gejala tersebut di atas masih kurang jelas, maka pengenalan dapat dilakukan dengan penyetekan ranting yang dicurigai. Kalau dari bekas potongan daun, bekas duduk daun, atau bekas potongan ranting yang dicurigai muncul benang-benang berwarna putih maka dapat dipastikan bahwa penyebabnya adalah jamur O. Theobromae.
PENYEBARAN
Penyakit menular dari pohon satu ke pohon yang lain melalui spora yang diterbangkan oleh angin pada tengah malam hari. Pada saat itu angin biasanya bertiup perlahan-lahan sehingga spora yang diterbangkan juga tidak jauh, kira-kira hanya 10 m dari sumbernya. Akan tetapi bila ada angin yang kencang spora dapat terbawa sampai 182 m (Prior, 1985). Spora-Spora sangat peka terhadap cahaya dan menjadi tidak infektif setelah terkena sinar matahari selama 30 menit (Keane, 1981). Spora yang jatuh pada daun muda akan segera berkecambah apabila tersedia air dan akan tumbuh masuk ke dalam jaringan xilem. Di dalam xilem jamur tumbuh ke batang pokok walaupun kadang-kadang dijumpai pula tumbuh ke arah sebaliknya. Setelah 3-5 bulan baru tampak gejala daun menguning dengan bercak hijau, daun-daun tersebut sangat mudah gugur, sehingga menyebabkan mati ranting. Pada saat itu jamur masih tetap tumbuh dalam jaringan tanaman dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Spora berupa benang-benang yang berwarna putih muncul pada malam hari dari bekas duduk daun sakit yang telah gugur. Pada kondisi yang sesuai akhirnya dibentuk basidiospora. Prior (1977) melaporkan bahwa Sporofor akan muncul pada ranting yang basah sepanjang malam. Di samping itu, Varghese (1985) menyatakan bahwa selain kelembaban yang tinggi sporulasi juga memerlukan suhu yang rendah. Oleh karena itu penyakit VSD lebih mudah tersebar di daerah beriklim basah dengan curah hujan yang tersebar merata sepanjang tahun daripada di daerah beriklim kering.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


