Update : Senin, 26/07/2010
 
Kebun

Dengan GERNAS Produktivitas Kakao Sultra akan Mencapai 1.500 KG

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki areal kebun kakao rakyat terluas. Data tahun 2007 luas kebun kakao rakyat yaitu 200.043 ha. Para petani di provinsi ini sangat antusias untuk berkebun kakao, karena didorong oleh pasar yang sangat menjanjikan. Akan tetapi saat ini pertanaman kakao di Sultra menghadapi permasalahan yaitu produktivitasnya yang cenderung menurun sekitar 673,6 kg/ha/th.

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara Ir. Chaidir Nurdin MBA menyatakan bahwa upaya peningkatan produktivitas kakao rakyat perlu terus menerus dilakukan dan saat ini tengah dilaksanakan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao (Gernas Kakao).

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Kadisbun Sultra pada pembukaan pertemuan koordinasi Gernas Kakao dan Revitalisasi Perkebunan Sulawesi Tenggara di Kendari belum lama ini, dikatakan bahwa kegiatan ini adalah upaya percepatan pengembangan kakao rakyat melalui peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi tanaman serta penerapan standar mutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Ditegaskannya, Gernas kakao akan berlangsung sampai tahun 2011 dan mencakup 5 kabupaten yaitu Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Selatan dan Muna. Hasil yang diharapkan dari Gernas tersebut yaitu dicapainya produktivitas 1.500 kg/ hektar/ tahun dengan mutu standar SNI, tegasnya.

Kakao di Sulawesi Tenggara memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat dan dunia usaha karena kakao merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk. Selain itu kakao merupakan sumber pendapatan masyarakat dan daerah. Berdasarkan data di Dinas Perkebunan Sultra, produksi pada tahun 2007 mencapai 134.755.000 kg dengan harga Rp 20.000 per kg maka diperoleh nilai produksi sebesar Rp 2,7 trilyun.

Di bidang ketenagakerjaan, kakao merupakan penyerap tenaga kerja terbesar, dari 466.440 kepala keluarga di Sultra, 143.433 KK ( 30 %) diantaranya mengusahakan kakao. Salah satu penyebab menurunnya produksi kakao diantaranya jenis/klon kakao yang ditanam petani tidak seragam, sebagian besar tanaman kakao sudah tua, tingginya serangan organisme pengganggu tanaman, system budidayanya masih subsisten, menyebar dan campuran.

Upaya peningkatan produktivitas kakao di Sultra optimis tercapai, mengingat hasil pengkajian BPTP Sultra di daerah Lambandia melalui teknik sambung samping mampu menghasilkan produksi hingga 2,5 ton per ha.

Arsip