Update : Senin, 26/07/2010
 
IPTEK

MEMAHAMI BAHASA STRESS AYAM DEMI PENINGKATAN PRODUKSI

Bila manusia bisa berbicara dengan hewan maka manajemen peternakan akan bisa jauh lebih mudah, efisien dan lancar sehingga mutu dan jumlah produksipun bisa meningkat. Legenda dan dongeng tentang manusia bisa mengerti bahasa hewan dan bahkan bisa ‘berbicara’ dengan mereka tersebar di masyarakat dunia. Di zaman modern terkenal hikayat Dr. Dolittle yang bisa berbicara dan bersosialisasi dengan hewan-hewan dan ikut memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. 

Para ilmuwan terdorong untuk mencari cara memahami bahasa hewan karena sadar akan manfaatnya yang sangat besar khususnya bagi indusri peternakan. Di antaranya yang berkembang belakangan ini adalah penelitian yang dirintis oleh Dr. Michael J. Darre untuk memahami arti suara-suara yang dikeluarkan oleh ayam ketika mereka mengalami stress. Kegiatan penelitian ini telah dilanjutkan dan diperluas melalui proyek penelitian Dolittle (“Dolittle Project”) yang bertujuan melakukan klasifikasi vokalisasi (suara) beragam jenis hewan piaraan maupun liar di darat, laut dan udara.

Proyek Dolittle yang didanai Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat memulai kegiatannya tahun 2004. Proyek ini merupakan yang pertama menerapkan logaritma pengolahan modern percakapan terhadap vokalisasi hewan. Proyek dikerjasamai oleh para ilmuwan dari Universitas Connecticut, Universitas Marquette, Universitas Cincinatti, Disney Animal Kingdom, Fauna Research Communications Institute, Universitas Central Florida di Amerika Serikat dan Universitas Poznan di Polandia serta dipimpin oleh Dr. Michael Johnson dari Universitas Marquette. Selain ayam, para peserta proyek melakukan studi dan upaya mengklasifikasi vokalisasi hewan antara lain kuda, anjing, harimau, ikan paus dan lumba-lumba.

Dr. Darre, profesor pada Departemen Ilmu Hewan Universitas Connecticut dan rekan menekankan dan melanjutkan penelitiannya untuk memahami reaksi ayam terhadap stress dan penyebab stres melalui suara (vokalisasi) yang dikeluarkannya. Ia bertolak dari temuan-temuan dan pemahaman ilmiah yang sudah tersebar luas dan memasyarakat tentang eratnya kaitan antara stres hewan dengan tingkat hasil produksinya.

Pada peternakan ayam komersial diketahui bahwa stres yang kronis menjadi salah satu penyebab penurunan hasil telur dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Dengan meringankan stres pada kumpulan ternak ayam petelur maupun pedaging, kesejahteraan umum ternak dan efisiensi produksi bisa lebih meningkat.

Selama ini, menurut Dr. Darre, satu-satunya cara klinis untuk mengukur secara langsung tingkat stres adalah dengan mengambil sampel darah dan menganalisa tingkat indikator-indikator stres tradisional seperti kadar senyawa kortisol dan adrenalin dalam darah. Namun, cara ini kelihatannya justru menginduksi lebih lanjut stres pada hewan bersangkutan. Selain itu ada kendala jarak waktu antara penyebab awal stres dengan pelaksanaan uji klinis darah. Sehingga riset mengenai vokalisasi ayam bisa merupakan jawaban untuk memperoleh cara yang tidak bersifat menyerang (non-invasive) sekaligus bisa memberi umpan balik yang segera dan akurat tentang tingkat dan jenis stres yang sedang menimpa ayam.

Dr. Darre menyatakan temuan penelitian menunjukkan bahwa pola vokalisasi ayam tidak sama terhadap penyebab stress yang berbeda. Analisa dilakukan dengan pencatatan digital vokalisasi ayam pada kondisi stress yang berbeda. Setelah kebisingan latar disingkirkan, dilakukan analisa menggunakan Hidden Markov Model (HMM) versi modifikasi dengan logaritma pengenalan suara. HMM modifikasi adalah model statistik yang dikembangkan oleh Universitas Marquette yang menampilkan karakteristik temporal dan spektral sinyal-sinyal audio. Pada aplikasi terhadap vokalisasi ayam, HMM bisa mencapai ketepatan kondisi klasifikasi keseluruhan sampai 74%.

Prof. Darre yang melanjutkan penelitian vokalisasi ayam bersama Ebenezer Out-Nyarko juga mempelajari pola perubahan vokal ayam dari sejak mulai menetas hingga dewasa. Sasaran yang ingin mereka capai ialah mengembangkan suatu “blackbox” (kotakhitam) yang dapat ditaruh di kandang ayam agar peternak dari kejauhan bisa memantau dan mendeteksi adanya stress dan mengidentifikasi jenis stresnya sehingga mereka bisa segera melakukan tindakan yang diperlukan mengatasi stres. Bila itu bisa diwujudkan, peternak dan konsumen akan diuntungkan oleh hasil telur dan daging ayam yang lebih baik.

Arsip