Update : Senin, 01/03/2010
 
Editorial

PENINGKATAN PRODUKSI MELALUI KAWASAN KEDELAI

Dilaporkan, berdasarkan pertemuan International Grain Council Meeting di London bahwa produksi komoditas dari biji-bijian dunia, seperti beras, gandum, jagung, kedelai pada 2009-2010 akan mengalami penurunan sementara konsumsi meningkat. Konsumsi dunia naik 0,7%, sementara produksi cenderung stagnan, bahkan menurun. Sehingga stok dunia turun 15 juta ton atau 4,6% dibanding pada tahun 2008. 

Syukurlah bagi Indonesia tidak ada masalah. Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, produksi beras sudah swasembada, jagung produksinya meningkat karena terdorong oleh harga yang semakin membaik.

Yang menjadi persoalan adalah kedelai. Bahkan untuk kemungkinan turunnya produksi biji-bijian dunia ini Indonesia sudah mengantisipasi dengan membangun silo/lumbung di sejumlah wilayah.

Sekarang soal kedelai. Ramalan ini harus menjadi sumber motivasi bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi. Sehingga program swasembada kedelai tahun 2014 dapat dipercepat. Masalahnya bagaimana mengatasi persoalan yang selama ini belum tertangani.

Misalnya ketidaksiapan infrastruktur, target perluasan tanaman yang tidak tercapai, bibit yang kurang bagus dari kualitas dan kuantitas, dan tak ada insentif bagi petani kedelai ditambah lagi perubahan iklim global.

Kebutuhan kedelai Indonesia sekitar 2,2 juta ton per tahun. Sementara produksi pada tahun 1992 merupakan puncak produksi mencapai 1,84 juta ton. Tapi sejak tahun 1993 produksi terus menurun.

Produksi pada tahun 2003 hanya 671.600 ton, disebabkan gairah petani menanam kedelai turun dipicu masuknya produk impor dengan harga murah karena saat itu bea masuk impor nol persen. Produksi kedelai tahun 2004 hingga 2006 sempat meningkat dari 723.483 ton menjadi 808.353 ton (2005) dan 746.611 ton (2006), namun tahun 2007 kembali turun menjadi sekitar 608.800 ton.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip