Update : Senin, 01/03/2010
 
Editorial

KENAIKAN PRODUKSI PADI 2009 MENGESANKAN DAN BERPELUANG UNTUK EKSPOR

 

Di tengah kekhawatiran adanya bayang-bayang kekeringan karena El-Nino, ternyata Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa berdasarkan angka ramalan III produksi gabah kering giling (GKG) tahun 2009 sebesar 63,48 juta ton atau naik 3,51 juta ton (5,83%) dibanding tahun 2008. Kenaikan ini dinilai mengesankan dan jarang terjadi. Karena produksi padi naik di atas 5% hanya dua kali terjadi yaitu tahun lalu dan tahun ini. Kenaikan ini sebagai akumulasi kenaikan luas panen dan produktivitas.

Kenaikan luas panen sebesar 515.310 hektar (4,18%). Kenaikan ini karena optimalisasi penggunaan lahan sehingga meningkatkan indeks pertanaman menjadi 2-3 kali, pencetakan sawah dan pemanfaatan lahan gambut. Peningkatan produktivitas sebesar 0,77 kuintal/ha, (1,57%). Kenaikan produktivitas ini karena penggunaan benih unggul yang 77,25% dibanding benih biasa, penggunaan pupuk lebih luas sebagai dampak penerapan distribusi pupuk bersubsidi secara tertutup sehingga menjamin pasokan ke petani.

Tingginya produksi ini juga dipacu iklim yang baik, minimalnya serangan hama/penyakit, kekeringan dan banjir. Yang paling penting adalah adanya jaminan harga yang stabil di pasar sebesar Rp. 4.500 per kg.

Dengan kenaikan produksi beras sebesar 5,83% ini, maka diperkirakan tahun 2009 ini akan ada kelebihan beras sekitar 3,5 juta ton, sedangkan tahun 2008 masih ada surplus produksi sebanyak 2,3 juta ton, sehingga total kelebihan 5,8 juta ton. Apalagi kalau ditambah surplus beras 2007 maka surplus beras ini mencapai 5-6 juta ton. Kebutuhan dalam negeri per bulan sebanyak 2,6 juta ton, tetapi untuk ketahanan pangan harus selalu tersedia 3 bulan ke depan. Dengan demikian tidak bermasalah jika mengekspor beras sekitar 200.000-300.000 ton.

Berdasar pengalaman tahun 2009, maka untuk melanjutkan ketahanan pangan ini berkelanjutan, perlu diantisipasi beberapa hal. Seperti :

Pertama, Menetapkan rencana aksi tanaman 2009/2010 dengan pengaturan masa tanam. Artinya untuk daerah yang memiliki pengairan teknis tetap mengikuti masa tanam normal. Sedangkan daerah yang masa tanamnya mundur dianjurkan menggunakan varietas berumur pendek dan tahan kering seperti gogo rancah. Ini berarti harus tersedia dan mudah didapatkan benih tersebut.


(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)
 

Arsip