Update : Selasa, 07/09/2010
 
Bumi dan Air

Pentingnya Fitohormon untuk Mendongkrak Hasil Petani

Sering petani mengalami kesulitan untuk mendongkrak hasil usahanya karena kurangnya pemahaman terhadap pentingnya peranan fitohormon/zat perangsang tumbuh dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Terkadang margin keuntungan yang diperoleh petani begitu tipisnya sehingga berdampak pada rendahnya motivasi bertani.

Petani seringkali lebih memusatkan perhatiannya pada ketersediaan unsur hara tanaman yang diberikan melalui pupuk, dan seringkali pupuk yang digunakan adalah pupuk sintetis/kimia. Petani kurang memperhatikan faktor pertumbuhan lainnya seperti hormon tumbuhan. Padahal apabila dianalogikan seperti proses pembuatan roti, unsur hara tanaman ibarat bahan-bahan pembuat roti, sedangkan hormon tanaman ibarat koki atau juru masak yang meramu semua bahan tersebut menjadi roti yang siap dikonsumsi.

Para ahli tanaman mengatakan hormon pertumbuhan menjadi salah satu faktor penentu pertumbuhan tanaman. Lengkapnya, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, antara lain: (1) Ketersediaan unsur hara; (2) ketersediaan air; (3) cahaya matahari; (4) suhu udara; dan (5) hormon pertumbuhan. (Isbandi, 1983).

Hormon dan Jenisnya
Hormon tanaman dapat berupa hormon yang sintetis maupun yang alami. Hormon berfungsi mendorong maupun menghambat pertumbuhan (Kusumo, 1984). Sedangkan, fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan ke bagian lain tanaman, senyawa tersebut menghasilkan suatu tanggapan (respon) secara biokimia, fisiologis dan morfologis.

Konsep zat pengatur tumbuh berawal dari konsep hormon tumbuhan. Para ahli biologi tumbuhan telah mengidentifikasi ada 5 tipe utama ZPT yaitu auksin, sitokinin, giberelin, asam absisat dan etilen. Pengaruh dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi ZPT pada tumbuhan, tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT tidak bekerja sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, pada umumnya keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. (Campbell et al, 2002).

Salisbury dan Ross (1995) menambahkan hormon yang pertama kali ditemukan adalah auksin. Auksin endogen yaitu IAA (Indol Acetic Acid) ditemukan pada tahun 1930-an bahkan saat itu hormon mula-mula dimurnikan dari air seni. Hasil penelitian Yunus (2007) menunjukkan bahwa terjadi pengaruh interaksi IAA dengan jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, dan jumlah planlet pada perkembangbiakan bawang merah secara in vitro.

George dan Sherington (1984) menyatakan bahwa auksin berpengaruh luas terhadap pertumbuhan, merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas akar. Dwidjoseputro (1990) menyatakan bahwa auksin hanya disusun di jaringan meristem di dalam ujung-ujung tanaman, seperti pucuk, kuncup bunga, tunas daun, ujung akar, dan lain-lain. Kusumo (1984) menyatakan bahwa perakaran yang timbul pada stek disebabkan oleh dorongan auksin yang berasal dari tunas dan daun.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip