Membudidayakan Aren
Pohon kelapa dibudidayakan masyarakat karena manfaatnya. Mengapa palma yang satu ini, yaitu ”Aren” (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.), perkembangan budidayanya di bumi Nusantara ini sangat lambat ?. Padahal, konon sosok aren sudah dikenal oleh masyarakat kita jauh sebelum jaman Penjajahan Belanda, sebagai penghasil bahan baku industri rumahan yaitu gula aren, soun (sejenis bihun), kolang-kaling, ijuk, legen, dls. Bahkan dewasa ini, kelompok masyarakat yang telah mengenyam manisnya perdagangan gula aren dan jenis-jenis produk turunan dari pohon aren, mayoritas tidak peduli terhadap keberlangsungan keberadaan palma ini. Mengapa demikian ?. Mungkinkah kita meningkatkan pemanfaatan salah satu jenis kekayaan hayati sarat fungsi ini, untuk mendukung upaya penyejahteraan masyarakat kita ?.
Habitat Aren
Sebagian dari bumi Nusantara ini, terutama di wilayah pegunungan menengah ke atas merupakan surga bagi pohon aren. Jenis palma ini tersebar luas secara alami di hutan-hutan berlereng yang lembab, di tebing-tebing sungai yang tanahnya cukup subur, cukup sarang, tanah volkanis atau lempung pasiran. Meskipun banyak juga ditemukan di dataran rendah yang lembab, tetapi penyebaran optimumnya pada elevasi (500-1200) meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan tahunan minimal 1200 mm.
Berkat aktivitas musang (Paradoxurus hermaphroditus), hewan yang sangat menyukai buah aren matang, maka pohon aren menyebar hingga ke bukit-bukit dan lereng terjal. Di berbagai sentra aren, terutama di luar pulau Jawa (misalnya di Sulawesi) meskipun belum ada data statistik, namun populasi palma ini relatif masih padat dibandingkan dengan di pulau Jawa. Menurunnya populasi aren di wilayah pulau Jawa, terutama disebabkan oleh kecepatan eksploitasinya melebihi laju perkembangbiakan alami, karena pohon ini memang tidak dibudidayakan.
Dampak menurunnya populasi pohon aren di pulau Jawa adalah kurangnya bahan baku bagi produksi gula aren dan produk turunan lainnya, sehingga tidak mampu mendongkrak industri rumahan berbasis pohon aren. Lain ceritanya andaikata eksploitasi tersebut diimbangi dengan pembudidayaan, tentu perkembangan industri rumahan berbasis pohon aren berpeluang untuk meningkat.
Keengganan Masyarakat
Suatu observasi melalui FGD di beberapa desa sentra industri gula aren di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang, telah dilakukan oleh tim Sibermas UKSW pada tahun 2001-2002. Terungkaplah sejumlah alasan mengapa masyarakat setempat enggan membudidayakan aren, untuk menopang pengembangan industri rumahan tersebut. Kegalauan mereka terhadap menipisnya bahan baku industri rumahan itu tercetus melalui cerita rendahnya produksi gula aren dan menurunnya jumlah produsen serta adanya gula aren campuran (dicampur gula tebu dan gula jawa) dengan harga lebih rendah.
Kaget juga ketika mengetahui bahwa sebagian besar penduduk setempat tidak mengerti bagaimana cara membudidayakan aren dan kemana mencari benih/bibit unggul. Alasan lainnya adalah terlalu lama menunggu hingga pohon itu bisa dimanfaatkan (sekitar 8-10 tahun) dan sebagian lagi ternyata enggan dengan sifat buah aren yang menimbulkan rasa gatal luar biasa ketika dikupas untuk diambil bijinya.
Tampaknya kegalauan masyarakat terhadap menipisnya bahan baku industri turunan pohon aren tidak cukup mampu memotivasi mereka membudidayakan aren. Jika motivasi itu tidak muncul dari masyarakat itu sendiri, lantas siapa yang berkewajiban menjaga populasi jenis palma yang sarat fungsi ini ?. Siapakah yang akan menghalau keengganan masyarakat untuk membudidayakan aren ?.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


