Update : Kamis, 11/03/2010
 
Agriwacana

Pilihan Alternatif untuk Ketersediaan Beras

Oleh : Dedik Wiriadiwangsa *)
Badan Litbang Pertanian di tahun 2009, mencanangkan program IP400, hal itu tertuntut oleh kebutuhan padi/beras di negeri ini yang setiap tahun meningkat tajam seiring dengan peningkatan penduduk. Hingga tahun ini telah mencapai kurang lebih 217.406.876 juta jiwa. (BPS 2008)

Di sisi lain walau produksi padi dalam pertanaman meningkat cukup signifikan akan tetapi luas panen secara nasional mulai menyusut karena konversi untuk alih fungsi lahan.

IP400 merupakan kelanjutan IP300, yang telah terlaksana di beberapa tempat yang sesuai dengan persyaratannya. Indek Pertanaman Padi (IP) semestinya disesuaikan dengan kondisi lokasi yang secara umum pada lahan subur, irigasi yang baik serta infrastruktur yang memadai serta saprodi yang lancar pengadaannya. Oleh karena itu secara nasional tidak semua kondisi dapat melaksanakan IP300, demikian pula halnya IP400, dampak lain seperti perubahan cuaca, musim dan serangan hama/pe¬nya¬kit perlu dicermati secara serius, jangan sampai petani sebagai pelaksana program terbebani oleh risiko yang diakibatkan oleh salah prakiraan mengantisipasi cekaman biotik dan abiotik.

Program ini tidak cukup dihitung di atas kertas oleh perkalian hasil setahun meningkat menjadi empat kali panen x sekian juta hektar lahan sawah hasilnya meningkat tajam sehingga dapat meme¬nuhi kebutuhan pangan secara nasional, akan tetapi dilihat juga risiko yang ditanggung petani, pada pertanaman keberapa ? bila terjadi kegagalan panen akibat bencana banjir dan kekeringan, atau lain¬nya bahkan jangan-jangan keuntungan panen sebelumnya akan tersedot menutupi proses produksi berikutnya yang mengalami kerugian besar.

Hal lain yang perlu dicermati, sudah adakah varietas unggul padi sawah yang berumur genjah di bawah 100-90 hari?, ini sangat berguna dalam menentukan jadwal tanam setahun yang hanya kira-kira 360 hari. Masa tenggang waktu berapa hari, semai benih, pengolahan tanah dsb. Upaya pening¬katan produksi padi dengan program IP400 memang sangat efektif, tetapi risiko yang ditempuh juga perlu perhatian serius. Seperti contoh dulu program lahan gambut sejuta hektar yang memerlukan biaya produksi tinggi, hingga kini terbengkalai belum ternikmati hasilnya ibaratnya; kita menghasil¬kan 2 ton/ha dengan biaya bernilai 2 ton juga.

Padi hibrida, merupakan solusi peningkatan produksi beras yang signifikan, tetapi lagi-lagi, masalah yang dihadapi juga banyak, seperti ketersediaan benih, yang masih terbatas dan mahal, lahan irigasi yang menyusut, serta tantangan biotik dan abiotik memerlukan biaya yang tidak sedikit diperlukan tambahan pengetahuan tentang apa itu padi hibrida ? bagi para petaninya serta pengawalan dari para ahlinya.

Adakah hal lain? Seperti pemberdayaan lahan kering dengan tanaman padi gogo masih dapat diupayakan secara maksimal, karena di republik ini lahan kering yang subur masih sangat luas bahkan di Pulau Jawa bagian Selatanpun masih sangat mungkin memperluas usaha padi gogo yang dengan kelebihannya biaya produksinya yang rendah.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip