Update : Selasa, 07/09/2010
 
Agriwacana

MENYIKAPI BANJIR SAPI IMPOR

Oleh : Drh. Harjuli Hatmono, Msi
Para peternak sapi di Kabupaten Magelang mengeluhkan harga sapi. Satu ekor sapi harganya turun antara Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta. Kondisi ini membuat para peternak kecil terancam gulung tikar. Pasalnya, dunia peternakan sedang dilanda banjir sapi impor. Untuk peternak skala besar masih bisa bertahan namun laba yang diperoleh menipis. Bukan hal baru. Impor sapi potong sudah lama dilakukan.

Pada tahun 2000 angka impor sapi sebesar 450 ribu ekor, saat ini mencapai 600–650 ribu ekor. Angka tersebut belum termasuk daging dan jeroan beku volumenya mencapai 64 ribu ton. Keadaan tersebut bukanlah merupakan masalah justru menjadi peluang untuk mengembangkan bisnis produksi daging sapi sebagai substitusi impor. Kenyataannya fungsi substitusi tidak berjalan dikarenakan tidak dapat bersaing soal harga melawan sapi impor. Apa solusinya?

Dengar punya dengar, sebuah direktorat jenderal di Kementerian Pertanian mengusulkan penjualan sapi harus dalam bentuk nilai daging, bukan jual dhadhung. Prakteknya? Penyediaan timbangan sapi di berbagai titik pemasaran tidak pernah dipergunakan. Baik di pasar hewan maupun di rumah potong hewan. Kalau tidak percaya, barang itu sampai karatan atau hilang dari tempatnya.

Lagi pula tidak paralel antara persoalan nilai jual satu satuan produk yang telah diukur di pasar dibandingkan dengan tata cara penjualan. Sama saja artinya keduanya harus diukur dengan cara yang sama. Baru fair. Penulis berpengalaman dengan seorang pedagang sapi di RPH (jagal), betapa persisnya menduga perolehan daging dari hasil pemotongan seekor sapi. Artinya praktek penjualan seperti ini bukan tidak obyektif, juga bukan tidak diukur.

MANAJEMEN PETERNAKAN
Lantas apa yang kurang dalam usaha peternakan kita? Satu kata: Efisiensi. Semua bangsa memiliki bibit sapi. Bangsa ini memiliki juga bahan pakan. Alam menyediakan, dapat dikatakan berlimpah. Kalau semua sumber daya tidak dikelola dalam suatu manajemen yang baik, itu artinya tidak bersyukur atas limpahan pemberian-Nya.

Pakan memang merupakan komponen terbesar dari pembiayaan usaha peternakan. Tetapi ingat, sesungguhnya ternak ruminansia memiliki daya linuwih (keunggulan) yang luar biasa atas penciptaannya. Sapi sebagai salah satu dari jenis ruminansia ini merupakan makhluk yang mampu mengubah (konversi) bahan pakan yang sangat tidak bermutu menjadi bahan pangan yang bergizi tinggi. Ini ajaran Dr. Hateem Mohammed Ali dari Cairo University.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip