Kidung Diversifikasi Konsumsi Pangan
Oleh: Mulyono Machmur - Kapus Konsumsi dan Keamanan Pangan
Diversifikasi Konsumsi Pangan atau Penganekaragaman Konsumsi Pangan muncul kembali mendapatkan perhatian pemerintah dan masyarakat di berbagai tingkatan atau strata kehidupan. Yang menjadi pertanyaan kenapa menjadi “Heboh Kembali” tentang dorongan agar semua masyarakat Indonesia melakukan diversifikasi konsumsi pangan. Alasan yang utama antara lain permintaan akan beras sebagai makanan pokok dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pendapatan masyarakat.
Bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang terbesar mengkonsumsi beras di dunia, bahkan dibandingkan dengan negara–negara di Asia sekalipun, masih memegang rekor terbesar (105 kg/kap/th). Contoh bangsa Jepang mengkonsumsi beras perkapita per tahun hanya sebesar 40 kg saja; Malaysia sebesar 80 kg/kap/th; Korea Selatan 70 kg/kap/th. Sedangkan rata–rata konsumsi beras penduduk dunia per kapita per tahun sekitar 55 kg saja.
Melihat kondisi tersebut semakin mengerikan apabila terjadi ancaman pengaruh “Pemanasan Global” (Global Warming). Cuaca semakin tidak menentu, semula diramalkan akan terjadi “El Nino” malah “La Nina” yang datang. Perubahan–perubahan cuaca yang sulit diprediksi, tidak tertutup kemungkinan akan mengancam produksi padi secara nasional. Nah, kalau produksi padi secara nasional terancam, lantas mau beli ke mana? Konon beras yang diperdagangkan di dunia tidak lebih dari 19 juta ton; yang diperebutkan oleh semua negara – negara yang makanan pokoknya beras.
Bangsa Indonesia pada tahun 1960-an tercatat memiliki tingkat ketergantungan makanan pokok pada beras hanya sekitar 55% saja. Dalam kurun waktu 25 tahun meningkat menjadi 85% dan sekarang lebih dari 95% bangsa ini makanan pokoknya tergantung pada beras/nasi. Pada strata perkotaan, masyarakatnya sudah mulai mengurangi konsumsi beras, tapi sayangnya beralih ke makanan yang bahan bakunya dari terigu.
Dua puluh tahun yang lalu, konsumsi terigu per kapita per tahun hanya 6 kg saja, sekarang sudah mencapai 17 kg/kap/th. Bahkan menurut data yang dapat dipercaya, impor gandum kita sudah mencapai 6 juta ton/tahun atau setara dengan 24 triliun rupiah.
Keberhasilan mengembangkan konsumsi gandum/terigu tidak semata-mata dikarenakan gencarnya promosi tetapi adanya dukungan kebijakan pemerintah yang menjadikan harga terigu menjadi murah. Begitupun lonjakan permintaan konsumsi beras tidak terlepas dari adanya kebijakan pemerintah terutama di input produksi, antara lain subsidi pupuk dan benih serta kebijakan harga beras murah sehingga terjangkau oleh daya beli masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Situasi dan kondisi konsumsi pangan masyarakat Indonesia seperti digambarkan di atas akan menyulitkan dalam menyanyikan “Kidung Diversifikasi Konsumsi Pangan”. Kidung Diversifikasi Konsumsi Pangan akan terjadi laksana berteriak di dalam gua (gemanya panjang dengan suara yang tidak jelas). Oleh karena itu, diperlukan adanya kidung yang bersifat dentuman-dentuman.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


